BANYUWANGI, KOMPAS.com -- Menyusul aktivitas Gunung Ijen di Jawa Timur yang meningkat sehingga ditetapkan pada status siaga, ratusan penambang pasir kehilangan mata pencaharian. Pemerintah diharapkan ikut memikirkan solusi guna membantu para penambang agar mereka tetap bisa mendapatkan penghasilan.
Camat Licin, Kabupaten Banyuwangi, Gatot Suyono menuturkan, selama ini para penambang hanya menggantungkan hidupnya pada penambangan belerang di kawah Ijen. "Kalau kegiatan penambangan ditutup dalam jangka waktu yang lama, mereka tidak akan punya pilihan selain kembali merambah hutan," kata Gatot, Selasa (20/12/2011) di Banyuwangi.
Para penambang yang jumlahnya sekitar 400 orang itu rata-rata tidak memiliki lahan pertanian, sehingga hanya bisa menjadi buruh tani. Namun, buruh tani hanya dibutuhkan pada musim tanam maupun panen. Saat ini, perusahaan perkebunan kopi maupun pemilik sawah di sekitar Ijen tampaknya belum membutuhkan tenaga buruh tani.
Menurut Gatot, pemerintah bertanggung jawab untuk mencari solusi guna membantu para penambang. "Saya sudah usulkan ke perusahaan penambang agar dibentuk koperasi, agar mereka bisa mengantisipasi kejadian seperti ini. Tapi usulan itu belum berjalan. Sekarang perlu dipikirkan solusi lain," tuturnya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang