Perikanan

Impor Ikan Mengalir Terus, Potensi Dalam Negeri Terabaikan

Kompas.com - 21/12/2011, 03:21 WIB

Jakarta, Kompas - Kebijakan pemerintah untuk buka-tutup impor ikan semakin sulit dikendalikan karena produk impor ikan tetap mengalir masuk di masa panen ikan. Potensi ikan dalam negeri yang sangat besar tetapi terabaikan kian dihantam arus impor. Belum ada keseriusan mengelola stok perikanan.

Sejumlah pelaku usaha pengolahan ikan mendesak pemerintah membenahi manajemen stok perikanan. Pasokan ikan lokal yang musiman dan tidak menentu seharusnya disikapi dengan mekanisme penyimpanan dan distribusi ikan yang memadai.

Dari penelusuran Kompas di sejumlah sentra perikanan tangkap dan pemindangan ikan di Kota Indramayu di Jawa Barat, Kota Tegal, Pekalongan, Kabupaten Pati (Jawa Tengah), Kabupaten Lamongan dan Banyuwangi (Jawa Timur), panen ikan masih berlangsung. Meski demikian, sejumlah pangkalan pendaratan ikan dan pelabuhan belum dilengkapi sarana gudang penyimpanan memadai untuk menampung banjir ikan di saat panen.

Ma’ali, pelaku usaha pemindangan ikan di Desa Purwawinangun, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, mengemukakan, pelaku usaha pemindangan kerap menghadapi kekurangan bahan baku lokal akibat musim panen yang tidak menentu. Kekurangan bahan baku itu seharusnya diatasi dengan penyediaan gudang penyimpanan dan pendingin untuk menyerap ikan yang berlimpah di saat panen.

Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rukun Mina Barokah di Pati, Sugito, mengemukakan, pelaku usaha pemindangan lebih memilih bahan baku ikan lokal berupa ikan layang dan tongkol. Sementara itu, pemakaian ikan impor berupa ikan salem dan tongkol menjadi opsi terakhir jika bahan baku lokal sulit didapat.

Meskipun demikian, produk salem asal China terus mengalir hampir sepanjang tahun dan dijual berbarengan dengan produk ikan lokal. ”Ikan salem impor terus masuk sepanjang tahun, sehingga produk impor itu punya pasar sendiri,” ujar Sugito.

Desakan pembenahan manajemen stok perikanan juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia Hendri Sutandinata. Pengelolaan stok perikanan masih sangat minim. Ini ditandai ikan gelondongan yang dapat diproses dalam negeri bebas diekspor untuk diolah di luar negeri, di antaranya ikan cakalang dan jenis tuna lain yang diekspor ke Thailand dan Filipina. Hal itu menyebabkan industri pengolahan dalam negeri kekurangan bahan baku.

”Ibaratnya seperti menghidupi anak orang lain, tetapi mematikan anak sendiri,” ujar Hendri.

Secara terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan, pihaknya akan mendorong penerapan sistem logistik ikan nasional pada 2012, di antaranya, menempatkan gudang penyimpanan dan pendingin ikan di kawasan minapolitan serta menyediakan pengangkut ikan untuk memudahkan pasokan bahan baku ke pengolahan. (LKT)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau