Jakarta, Kompas
Sejumlah pelaku usaha pengolahan ikan mendesak pemerintah membenahi manajemen stok perikanan. Pasokan ikan lokal yang musiman dan tidak menentu seharusnya disikapi dengan mekanisme penyimpanan dan distribusi ikan yang memadai.
Dari penelusuran Kompas di sejumlah sentra perikanan tangkap dan pemindangan ikan di Kota Indramayu di Jawa Barat, Kota Tegal, Pekalongan, Kabupaten Pati (Jawa Tengah), Kabupaten Lamongan dan Banyuwangi (Jawa Timur), panen ikan masih berlangsung. Meski demikian, sejumlah pangkalan pendaratan ikan dan pelabuhan belum dilengkapi sarana gudang penyimpanan memadai untuk menampung banjir ikan di saat panen.
Ma’ali, pelaku usaha pemindangan ikan di Desa Purwawinangun, Kecamatan Suranenggala, Kabupaten Cirebon, mengemukakan, pelaku usaha pemindangan kerap menghadapi kekurangan bahan baku lokal akibat musim panen yang tidak menentu. Kekurangan bahan baku itu seharusnya diatasi dengan penyediaan gudang penyimpanan dan pendingin untuk menyerap ikan yang berlimpah di saat panen.
Ketua Kelompok Usaha Bersama (KUB) Rukun Mina Barokah di Pati, Sugito, mengemukakan, pelaku usaha pemindangan lebih memilih bahan baku ikan lokal berupa ikan layang dan tongkol. Sementara itu, pemakaian ikan impor berupa ikan salem dan tongkol menjadi opsi terakhir jika bahan baku lokal sulit didapat.
Meskipun demikian, produk salem asal China terus mengalir hampir sepanjang tahun dan dijual berbarengan dengan produk ikan lokal. ”Ikan salem impor terus masuk sepanjang tahun, sehingga produk impor itu punya pasar sendiri,” ujar Sugito.
Desakan pembenahan manajemen stok perikanan juga disampaikan Ketua Umum Asosiasi Pengalengan Ikan Indonesia Hendri Sutandinata. Pengelolaan stok perikanan masih sangat minim. Ini ditandai ikan gelondongan yang dapat diproses dalam negeri bebas diekspor untuk diolah di luar negeri, di antaranya ikan cakalang dan jenis tuna lain yang diekspor ke Thailand dan Filipina. Hal itu menyebabkan industri pengolahan dalam negeri kekurangan bahan baku.
”Ibaratnya seperti menghidupi anak orang lain, tetapi mematikan anak sendiri,” ujar Hendri.
Secara terpisah, Menteri Kelautan dan Perikanan Sharif Cicip Sutardjo mengemukakan, pihaknya akan mendorong penerapan sistem logistik ikan nasional pada 2012, di antaranya, menempatkan gudang penyimpanan dan pendingin ikan di kawasan minapolitan serta menyediakan pengangkut ikan untuk memudahkan pasokan bahan baku ke pengolahan.