Bangkai Kapal Pembawa Imigran Gelap Ditemukan

Kompas.com - 21/12/2011, 05:23 WIB

SURABAYA, KOMPAS.com — Nelayan Jember menemukan bangkai kapal di kawasan sekitar Pulau Nusa Barung, Kabupaten Jember, Jawa Timur, Selasa (20/12/2011). Bangkai kapal itu diduga bangkai kapal yang membawa imigran ilegal yang pecah di Perairan Prigi.

"Nelayan menyampaikan informasi itu kepada kami. Bangkai kapal itu ditarik tiga perahu nelayan sehingga akhirnya bisa dibawa ke Pantai Pancer, Kabupaten Banyuwangi. Meski demikian, saya tidak bisa memastikan apakah kapal ini yang dipakai imigran gelap. Kami masih akan menyelidikinya," kata Kepala Polisi Air dan Udara Puger Ajun Komisaris Nur Mahfut.

Menurut dia, panjang bangkai kapal sekitar 25 meter dan lebar 4-5 meter. Kapal ditemukan nelayan yang sedang menangkap ikan di laut.

Wakil Kepala Polda Jatim Brigjen (Pol) Eddi Sumantri menjelaskan, polisi telah memeriksa empat orang di Popoh, Tulungagung, Jatim. Mereka adalah kakak beradik Bambang dan Nuri, warga perkampungan nelayan Pantai Popoh, Desa Besole, Tulungagung, pemilik kapal Barokah yang digunakan untuk membawa imigran gelap dari Pantai Popoh ke tengah laut untuk dinaikkan kapal yang akan membawa mereka ke Australia. Dua orang lainnya adalah Ronny Wijaya dan Joko, awak kapal Barokah.

Menurut polisi, Bambang dan Nuri didatangi enam orang yang tidak mereka kenal yang mengaku hendak menyewa perahu Barokah. Tanpa curiga, kata Eddi, Bambang dan Nuri menyanggupi mengantar ratusan orang asing yang menumpang empat bus dengan perahu Barokah ke tengah laut. "Selama ini nelayan Popoh biasa melayani permintaan sewa perahu untuk wisata atau untuk penelitian," kata Eddi.

Delapan korban saat ini tengah dirawat intensif di Rumah Sakit Bhayangkara, Lumajang. "Mereka mengalami dehidrasi atau kekurangan cairan setelah lebih kurang dua hari terombang-ambing di lautan tanpa makan dan minum. Itu sebabnya, mereka kini dirawat intensif dengan diberikan nutrisi tambahan melalui infus," tutur Kepala RS Bhayangkara, Lumajang, Komisaris Pancama Putra Hadi Wahyana. (SIR/ODY/ETA/DIA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau