Kehidupan Pelajar di Jakarta Meresahkan

Kompas.com - 21/12/2011, 06:11 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Kekerasan antarpelajar di Jabodetabek kian marak dan menakutkan. Gambaran kekerasan itu terlihat jelas dari melonjaknya angka tawuran pelajar dan korban meninggal dunia akibat tawuran selama kurun waktu 2011 yang dicatat Komisi Nasional Perlindungan Anak.

Pada tahun 2010, angka tawuran sebanyak 128 kasus, dengan 40 orang meninggal dunia. Setahun kemudian, angka tawuran itu melonjak lebih dari dua kali lipat menjadi 339 kasus, yang menewaskan 82 orang.

"Tawuran itu terjadi di wilayah Jabodetabek yang mengakibatkan fasilitas umum rusak, lalu lintas macet, dan korban terluka hingga tewas," kata Ketua Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) Arist Merdeka Sirait dalam jumpa pers catatan akhir tahun 2011 di Komnas PA, Pasar Rebo, Jakarta Timur, Selasa (20/12/2011)

Di Jakarta Barat, kasus tawuran antarpelajar yang terkini terjadi pada 16 Desember 2011. Dalam peristiwa itu, seorang siswa SMK Bhara Trikora, Jelambar, Muhammad Zaki al Habba (15), terluka bacok akibat diserang sekelompok siswa SLTA bersenjata tajam.

Di Jakarta Pusat, tawuran antarpemuda terjadi di dekat jalan layang Roxy, 24 November 2011. Dalam peristiwa itu, seorang siswa SMK Negeri 1 Jakarta, Rifal Edryan (16), tewas dibacok oleh sekelompok pemuda.

Dalam kasus itu, Kepolisian Resor Metropolitan Jakarta Pusat berhasil menangkap pelaku dan menetapkan dua orang sebagai tersangka. Pelaku berinisial A (20) dan HY (19) mengklaim tergabung dalam kelompok Kebon Jeruk (Bonjer) 5. Hasil penyidikan, A yang lulus SMA pada tahun 2011 menggerakkan tawuran setelah saling ejek dengan kelompok korban di situs jejaring sosial Facebook.

Di Jakarta Selatan, pada kurun 2011 muncul 14 kali pemberitaan perkelahian antarsiswa dan atau pemuda antarkampung.

Sejumlah kasus menonjol antara lain tawuran antarwarga di Menteng Tenggulun, perbatasan Jakarta Pusat dan Jakarta Selatan, tawuran antaranggota ormas di perbatasan Depok-Tangerang Selatan-Jakarta Selatan, serta tawuran antarsiswa SMA di Jalan Bulungan.

"Maraknya kasus tawuran berarti kekerasan tetap hidup, yang mencerminkan kegagalan pemerintah, masyarakat, keluarga, sekolah, dan aparat melindungi anak-anak," kata Arist.

Pelajar yang terlibat tawuran, dalam analisis Komnas PA, berkarakter peniru ulung, emosi terganggu, reaktif, suka tantangan dan bahaya, tidak disiplin, kurang berhati nurani, kurang memahami perilaku dan spiritual yang baik, serta kurang mengenal toleransi, pluralisme, demokrasi, dan hak asasi manusia.(BRO/NEL/ART/FRO)

Artikel selengkapnya di Harian Kompas edisi Rabu (21/12/2011).

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau