Cucu Kim Jong Il Juga Disembunyikan

Kompas.com - 21/12/2011, 08:00 WIB

SEOUL, KOMPAS.com - Keluarga Kim sama seperti halnya dengan keluarga lain di dunia. Walaupun Korea Utara penuh rahasia, keluarga Kim tetap menjadi bahan gosip di negara lain, khususnya di negara tetangga Korea Selatan.

Banyak spekulasi berkembang setelah ada laporan bahwa cucu Kim Jong Il, Kim Han Sol, yang berusia 16 tahun dijadwalkan akan masuk ke sebuah sekolah internasional di Bosnia.

Lebih dari satu pekan setelah berita itu tersebar, di situs Youtube muncul foto dan cuplikan video cucu yang dimaksud dalam laporan itu.

Kantor berita Korea Selatan, Yonhap, menyatakan telah menelusuri foto-foto tersebut yang ternyata berasal dari akun Facebook sekolah di Bosnia. Yonhap langsung menayangkan foto itu.

Terlihat seorang lelaki muda dalam foto tersebut mengenakan jas dan kacamata berbahan tanduk. Dia berpose dengan seorang perempuan. Tampaknya mereka sedang berpesta.

Dalam foto lain terlihat seorang lelaki muda berambut pirang, mengenakan kaus hitam. Yonhap melaporkan kewarganegaraan Han Sol seperti tercantum di situs sekolah adalah Korea Utara.

Sekolah itu, United World College di Moster, telah mengonfirmasikan menerima siswa berusia 16 tahun dari Korea Utara bernama Kim Han Sol. Sekolah telah mengeluarkan pernyataan pers mengenai hal tersebut. Namun, kemudian sekolah bungkam ketika ditanya lebih lanjut mengenai identitas siswa dari Korea Utara tersebut.

”Masuknya siswa dari Korea Utara, terlebih dari keluarga terpandang, telah menimbulkan rasa keterkejutan dan komentar, beberapa komentar sangat kritis,” demikian pernyataan resmi sekolah tersebut.

Menurut Yonhap, Kim Han Sol adalah anak dari Kim Jong Nam, putra tertua dari pemimpin Korea Utara Kim Jong Il.

Kehidupan Kim Jong Nam juga penuh rahasia. Dia adalah anggota keluarga yang jarang dibicarakan. Dia terlihat di bandara dan tempat lain di luar Korea Utara.

Jong Nam dinilai dikucilkan dari keluarga Kim. Kesalahannya seolah merupakan dosa tak terampuni bagi keluarga.

Jong Nam pernah dideportasi dari Jepang karena masuk dengan paspor palsu pada tahun 2001. Ketika itu, dia hendak berjalan-jalan ke Disneyland Tokyo. Setelah peristiwa itu, Jong Nam seolah disingkirkan oleh keluarganya.

Ditutup

Media Korea Selatan juga memfokuskan perhatian pada video lain yang diunggah ke situs Youtube. Video itu berkisah tentang kehidupan Kim Han Sol juga. Dalam video tersebut, seorang pengguna Youtube menyatakan sebenarnya Han Sol bersekolah di Makau. Orang itu mengaku dekat dengan keluarga Kim.

Sayangnya CNN tidak dapat mengonfirmasikan identitas pengguna Youtube tersebut atau orang yang tampak pada media Korea Selatan itu. Tidak ada publikasi foto Han Sol dan tidak ada komentar sepatah kata pun dari keluarga Kim mengenai cucu mereka ini.

Sikap keluarga yang sangat tertutup justru memancing media mengorek-korek keterangan mengenai keluarga legendaris dari Korea Utara itu. Media berbuat apa saja untuk mendapatkan berita atau keterangan tentang kehidupan keluarga Kim Jong Il.

Para ahli dan analis biasa menggunakan foto yang disiarkan oleh kantor berita Korea Utara untuk memperkirakan kesehatan Kim Jong Il. Mereka sibuk meneliti bagaimana warna wajah, gerakan, bahkan model sepatu yang digunakan sang pemimpin.

Akan tetapi, terbatasnya akses untuk melakukan verifikasi mengenai apa yang telah disiarkan oleh media-media juga menyebabkan kebingungan.

Pernah ada sebuah foto yang dikeluarkan dan disebut sebagai foto eksklusif dari salah seorang anak Kim. Namun, akhirnya foto diketahui merupakan foto seorang rakyat jelata. Insiden tersebut hanya dikoreksi setelah orang yang tampak dalam foto tersebut berbicara dan mengatakan dia sangat terkejut karena tiba-tiba disebut-sebut sebagai salah satu keluarga dinasti Kim dalam satu malam.

Ketika spekulasi mengenai cucu Kim semakin berkembang, akhirnya video yang diunggah ke situs Youtube tersebut tidak dapat diakses dan ditutup, seperti tertutupnya keluarga dinasti yang akan berkuasa selama tiga generasi ini. Begitu tertutupnya hingga membuat warga tidak mengenal calon pemimpinnya sendiri, Kim Jong Un. (CNN/Joe)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau