JAKARTA, KOMPAS.com -- Gubernur Bank Indonesia (BI) Darmin Nasution mengingatkan otoritas jasa keuangan (OJK) agar tidak tertipu oleh kinerja bank yang efisien. Bank-bank yang tidak efisien, seringkali terlihat sehat-sehat saja.
"Pengalaman dengan rekan pengawas bank, titik perhatiannya adalah tingkat kesehatan bank, sedangkan efisiensi perbankan bukan menjadi perhatian utama. Oleh karena itu bisa terjadi, perbankan yang kurang efisien malah sehat-sehat saja," ungkap Darmin saat berbicara dalam Seminar Nasional OJK "Era Baru Pengawasan Sektor Keuangan yang Terintegrasi", Rabu (22/12/2011) di Jakarta.
Atas dasar itu, menurut Darmin, pemisahan fungsi pengawasan perbankan dari BI dan digabungkan dengan OJK harus dipersiapkan sedetail mungkin. Peralihan fungsi micro prudential (pengawasan bank secara individual) ke OJK dan mempertahankan fungsi macro prudential di BI harus diikat dengan hubungan koordinasi yang matang.
"Perlu dibentuk bersama metode berkoordinasi antara OJK dan BI, karena antara pengawasan bank dengan kebijakan moneter tidak bisa dipisahkan dengan batas yang jelas. Perlu mekanisme kerja sama yang kemudian memungkinkan kedua faktor utama tadi (efisiensi dan kesehatan bank) bisa berjalan bersama," paparnya.
Per 31 Desember 2013, fungsi pengawasan bank dialihkan dari BI ke OJK. Sejak saat itu, BI hanya mengelola kebijakan moneter saja.
"Kerentanan akibat tidak sehatnya bank individual akan berdampak menyeluruh pada industri perbankan. Pada akhirnya akan membahayakan sektor keuangan. Akan berdampak sistemik jika bank itu terkait dengan bank lain," jelas Darmin.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang