Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA), Selasa (20/12), menjatuhkan hukuman larangan bertanding delapan kali dan denda 40.000 poundsterling (sekitar Rp 569 juta) kepada penyerang Liverpool, Luis Suarez, yang dinyatakan bersalah telah melontarkan cacian berbau rasial kepada gelandang bertahan Manchester United, Patrice Evra.
Penyerang asal Uruguay berusia 24 tahun itu terlibat adu mulut dengan Evra saat mereka bertemu di Anfield, 15 Oktober, yang kemudian dilaporkan Evra kepada FA. Meski Suarez ataupun Liverpool telah membantah tuduhan Evra, FA tetap menjatuhkan hukuman atas perbuatan yang dianggap menodai kehormatan sepak bola itu.
”Hari ini adalah hari yang sulit dan menyakitkan bagi saya dan keluarga saya. Terima kasih untuk semua dukungan,” tulis Suarez dalam pesan Twitter-nya.
Hukuman kepada Suarez itu bukan yang pertama dijatuhkan FA. Badan sepak bola Inggris itu sangat tegas menghukum perbuatan tak layak para pesepak bola di dalam ataupun luar lapangan. Hal itu dilakukan demi tegaknya disiplin dan fairness di lapangan hijau.
Pada 2005, David Prutton yang bermain di Southampton dijatuhi larangan bermain 10 kali karena mendorong wasit. Pada 2003, bek MU, Rio Ferdinand, dijatuhi hukuman larangan bertanding delapan bulan karena gagal melakukan uji obat terlarang. Bintang MU lainnya, Eric Cantona, juga pernah dijatuhi hukuman sembilan bulan pada 1995 karena menyerang penonton.
Bandingkan dengan di negara kita. Perkelahian antar-pemain ataupun penyerangan terhadap wasit bisa ”dimaklumi” dan diselesaikan dengan ”jalan damai”.
Ketua Kelompok Antirasisme Kick It Out Herman Ouseley, kepada BBC, mengatakan, FA telah menunjukkan kepemimpinan dan kehendak kuat melalui keputusan atas keluhan yang sulit dan kompleks untuk diatasi itu, dan menghabiskan waktu dan keahlian untuk memastikan hasil akhirnya.
Namun, lanjut Herman, hukuman terhadap Suarez tidak bermakna bahwa Luis Suarez seorang rasis. ”Keputusan itu hanya mengatakan bahwa pada suatu saat dia menggunakan kalimat berbau rasis. Hal itu tidak membuatnya sebagai seorang yang buruk, hanya dia perlu belajar apa yang bisa diterima,” tutur Ouseley.
Ketua Asosiasi Sepak Bola Profesional Clarke Carlisle, kepada BBC, menjelaskan, keputusan FA 100 persen benar. ”Masalahnya ada banyak perbedaan budaya dari pemain yang datang dari Amerika Selatan dan hukum di negeri ini. Meskipun perbedaan itu nyata, kami meminta orang yang datang dan bekerja di sini menyesuaikan diri dengan standar dan hukum di negeri ini,” paparnya.
Liverpool dalam pernyataan di situs resmi menyatakan terkejut dan kecewa dengan keputusan Komisi FA menghukum Suarez. Hukuman itu dinilai luar biasa karena hanya didasarkan pengakuan Evra, dan tak seorang pun di lapangan yang bisa mendukung pernyataannya.
”Kami akan menggunakan hak kami untuk mengajukan banding atau melakukan upaya lain yang kami rasa layak terkait dengan situasi ini,” tulis situs resmi Liverpool tersebut.
Evra dalam pernyataan tertulis terkait kasus ini mengatakan, ”Saya tidak berpikir Luis Suarez adalah seorang rasis.”
Pengamat sepak bola Amerika Latin, Tim Vickery, di BBC menggambarkan, di negeri tempat Suarez berasal, ungkapan berbau rasis sudah biasa digunakan, bahkan dijadikan semacam julukan.
Dicontohkan, kapten tim nasional Uruguay yang memenangi Piala Dunia 1950, Obdulio Varela, diberi julukan ”El Negro Jefe” atau Bos Kulit Hitam. Bahkan, teman satu tim Suarez, Maxi Pereira, juga dikenal dengan julukan ”El Mono” atau Si Monyet.
Sayangnya, Inggris memang punya standar tersendiri. Karenanya, ingatlah selalu ungkapan, ”Di mana bumi dipijak, di situ langit dijunjung”.(AP/AFP/Reuters/OKI)