Kualifikasi Calon Presiden Penting

Kompas.com - 22/12/2011, 03:07 WIB

Jakarta, Kompas - Memperdebatkan usia yang pantas bagi calon peserta Pemilihan Umum Presiden 2014 adalah tidak terlalu relevan. Pembahasan lebih bermanfaat jika difokuskan pada kualifikasi kepemimpinan dan pribadi yang dibutuhkan untuk memimpin Indonesia.

”Perdebatan utama seharusnya lebih pada kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menjadi nakhoda bagi Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tjahjo Kumolo, Rabu (21/12), di Jakarta.

Tjahjo menilai, mantan Ketua MPR Amien Rais punya subyektivitas politik, seperti untuk memuluskan jalan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa ketika berkata bahwa Pemilu 2014 merupakan saat bagi tokoh-tokoh yang tergolong lebih muda atau berusia 45-55 tahun. ”Biarkan rakyat yang menentukan siapa pemimpinnya pada 2014,” tutur Tjahjo.

Hal senada mengemuka dalam diskusi evaluasi akhir tahun DPP Partai Golkar bertajuk ”Membangun Demokrasi, Melahirkan Negarawan” di Jakarta, Rabu. Membahas karakter, komitmen, integritas, dan konsep lebih diperlukan sebagai syarat memimpin bangsa daripada memperdebatkan usia calon presiden.

Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut mantan Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, pengamat politik J Kristiadi, budayawan Radhar Panca Dahana, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung.

Teladan

Menurut Kiki, saat ini pemimpin yang diperlukan Indonesia adalah sosok yang berkarakter, berani, tidak peragu, berkomitmen tinggi, dan konsisten. Selain harus cerdas dan berkompeten, figur itu harus bisa menjadi teladan. Sayangnya, sejak merdeka, Indonesia belum menemukan sosok yang bisa menjadi teladan.

Soal muda atau tua, Komaruddin tidak terlalu mempersoalkannya. Justru lebih penting adanya konsep dan gagasan segar visi agenda bangsa ke depan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pemimpin kita memiliki agenda sangat jelas, yakni mencapai kemerdekaan. Pada 1998, mahasiswa dan para aktivis juga mempunyai agenda jelas, yakni menurunkan Soeharto.

Oleh karena itu, diperlukan konsolidasi gagasan sebagai sebuah bangsa. Partai politik dapat bergerak dan mengidentifikasi problem bangsa secara bersama tanpa saling menjegal.

Masalahnya, saat ini kekuatan uang dan jaringan menjadi lebih penting ketimbang kekuatan konsep dan visi. Komaruddin menyebutkan, saat ini lebih banyak politisi puber yang cirinya mementingkan gaya dan emosi. Jika ini dibiarkan dan tidak muncul gagasan-gagasan visioner, dikhawatirkan semakin banyak masyarakat memilih golput atau memberikan suara berdasarkan transaksi. (ina/nwo)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau