”Perdebatan utama seharusnya lebih pada kualitas kepemimpinan yang dibutuhkan untuk menjadi nakhoda bagi Indonesia,” kata Sekretaris Jenderal Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Tjahjo Kumolo, Rabu (21/12), di Jakarta.
Tjahjo menilai, mantan Ketua MPR Amien Rais punya subyektivitas politik, seperti untuk memuluskan jalan Ketua Umum Partai Amanat Nasional Hatta Rajasa ketika berkata bahwa Pemilu 2014 merupakan saat bagi tokoh-tokoh yang tergolong lebih muda atau berusia 45-55 tahun. ”Biarkan rakyat yang menentukan siapa pemimpinnya pada 2014,” tutur Tjahjo.
Hal senada mengemuka dalam diskusi evaluasi akhir tahun DPP Partai Golkar bertajuk ”Membangun Demokrasi, Melahirkan Negarawan” di Jakarta, Rabu. Membahas karakter, komitmen, integritas, dan konsep lebih diperlukan sebagai syarat memimpin bangsa daripada memperdebatkan usia calon presiden.
Hadir sebagai narasumber dalam diskusi tersebut mantan Wakil Kepala Staf TNI AD Letjen (Purn) Kiki Syahnakri, pengamat politik J Kristiadi, budayawan Radhar Panca Dahana, Rektor Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah Komaruddin Hidayat, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, dan Ketua Dewan Pertimbangan Partai Golkar Akbar Tandjung.
Menurut Kiki, saat ini pemimpin yang diperlukan Indonesia adalah sosok yang berkarakter, berani, tidak peragu, berkomitmen tinggi, dan konsisten. Selain harus cerdas dan berkompeten, figur itu harus bisa menjadi teladan. Sayangnya, sejak merdeka, Indonesia belum menemukan sosok yang bisa menjadi teladan.
Soal muda atau tua, Komaruddin tidak terlalu mempersoalkannya. Justru lebih penting adanya konsep dan gagasan segar visi agenda bangsa ke depan. Pada masa perjuangan kemerdekaan, pemimpin kita memiliki agenda sangat jelas, yakni mencapai kemerdekaan. Pada 1998, mahasiswa dan para aktivis juga mempunyai agenda jelas, yakni menurunkan Soeharto.
Oleh karena itu, diperlukan konsolidasi gagasan sebagai sebuah bangsa. Partai politik dapat bergerak dan mengidentifikasi problem bangsa secara bersama tanpa saling menjegal.
Masalahnya, saat ini kekuatan uang dan jaringan menjadi lebih penting ketimbang kekuatan konsep dan visi. Komaruddin menyebutkan, saat ini lebih banyak politisi puber yang cirinya mementingkan gaya dan emosi. Jika ini dibiarkan dan tidak muncul gagasan-gagasan visioner, dikhawatirkan semakin banyak masyarakat memilih golput atau memberikan suara berdasarkan transaksi.