SEOUL, KOMPAS.com — Sang Penerus Besar, Kim Jong Un, mewarisi berbagai kekacauan dan masalah dari mendiang ayahnya, Kim Jong Il. Sejumlah persoalan besar muncul, seperti perekonomian yang morat-marit dan rakyat kelaparan. Juga ada tekanan internasional terkait program senjata nuklir.
Keadaan ini diperparah dengan minimnya pengalaman dan pengetahuan Jong Un walau sudah dipersiapkan dalam tiga tahun terakhir.
Pada era 1960-an, Korut berkembang lebih cepat dari rival utamanya, Korea Selatan. Seiring bubarnya Uni Soviet, perekonomian negeri itu juga merosot.
"Kesenjangan yang sangat tinggi terjadi pada pembangunan perekonomian. Ini semakin merefleksikan kegagalan memalukan kebijakan ekonomi dengan perencanaan terpusat, yang diterapkan sejak 1945," ujar Rajiv Biswas, Ketua Ekonom Asia-Pasifik dari IHS Global Insight, Rabu (21/12/2011).
Sepanjang tahun lalu, perekonomian Korut menciut. Hal itu disebabkan kebijakan produksi pangan yang sembrono oleh pemerintah ditambah semakin menguatnya sanksi ekonomi dari dunia internasional.
Persoalan serius lain terkait kemampuan negeri itu memasok sumber energi listrik dan bahan mentah. Padahal, negeri itu diyakini punya cadangan sumber daya alam yang sangat besar, seperti batubara dan bahan tambang mineral lain, yang ditaksir bernilai 6,3 triliun dollar AS.
Korut menyerahkan hak eksplorasi dan eksploitasi kepada sejumlah perusahaan China yang ingin mencari keuntungan.
Seperti akuarium
Kegagalan intelijen asing mengetahui kematian Jong Il juga menjadi isu lain. Ini sekaligus menunjukkan sangat sedikit sekali informasi yang bisa diketahui dunia dari negeri misterius itu.
Korsel, AS, dan China baru tahu kematian Jong Il saat stasiun televisi resmi Korut mengumumkannya hari Senin, sementara kematiannya sendiri terjadi dua hari sebelumnya. Sejumlah intelijen Barat berkilah, mereka lebih fokus mengamati kapan Jong Il melakukan provokasi mengejutkan dan tidak mengantisipasi kematiannya.
Intelijen AS mengklaim sangat paham kondisi kesehatan Jong Il pascaserangan stroke tahun 2008 dan apa dampak serangan tersebut pada kelanjutan kondisi kesehatan sang diktator. Akan tetapi, intelijen AS sama sekali tidak bisa tahu kapan kondisi kesehatannya memburuk dan berujung pada kematian.
AS menyalahkan China, yang tahu Jong Il, tetapi tidak pernah memberi informasi tentang kondisi sebenarnya. "China sering melihat dia (Jong Il), tetapi tidak pernah memberi tahu kalau dia sakit. Malah China selalu bilang Jong Il tampak sehat-sehat saja," ujar Michael Green, mantan pakar Asia di Dewan Keamanan Nasional Gedung Putih.
"Kondisinya seperti ini, Korut itu ibarat mangkuk akuarium berisi ikan. Semua orang bisa melihat dan mengira-ngira apa yang terjadi di dalamnya. Namun, tak seorang pun berani mencelupkan jari mereka karena tidak tahu pasti apa akibatnya," ujar Victor Cha dari Center for Strategic and International Studies di Georgetown University, Amerika Serikat.
Belakangan, salah seorang pejabat Korsel, seperti dikutip kantor berita Yonhap, menyebut beberapa saat sebelum kematian ayahnya diumumkan, Jong Un langsung mengeluarkan perintah pertama terhadap militer negeri itu. Dia memerintahkan penarikan seluruh personel dan penghentian berbagai bentuk latihan. Hal itu menunjukkan Jong Un punya kemampuan mengontrol militer. (AFP/REUTERS/DWA)
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang