Kerugian akibat Letusan Gamalama Mencapai Rp 170 Miliar

Kompas.com - 22/12/2011, 20:30 WIB

TERNATE, KOMPAS.com — Pemerintah Kota Ternate, Maluku Utara, menaksir kerugian akibat bencana letusan Gunung Gamalama dan banjir lahar dingin di Kota Ternate mencapai Rp 170 miliar.

"Kerugian akibat bencana letusan Gunung Gamalama dan banjir lahar dingin yang direkapitulasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Ternate ditaksir Rp 170 miliar," kata Kepala Bagian Humas dan Protokoler Pemerintah Kota Ternate Jusuf Sunya di Ternate, Kamis (22/12/2011).

Menurut dia, taksiran nilai kerugian yang diakibatkan letusan Gunung Gamalama dan terjangan banjir lahar dingin telah disampaikan kepada Wali Kota Ternate Burhan Abdurahman.

Ia mengatakan, kerugian tersebut akan ditangani menggunakan dana APBN dan APBD untuk membenahi berbagai infrastruktur yang rusak akibat terjangan banjir lahar dingin dan embusan abu vulkanik letusan Gunung Gamalama.

Untuk itu, Wali Kota Ternate berkoordinasi dengan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) di Jakarta. Jusuf mengatakan, langkah wali kota tersebut sangat penting karena Pemkot Ternate tidak memiliki anggaran sebesar itu untuk membenahi berbagai sarana dan infrastruktur yang rusak.

Disinggung mengenai tanggap darurat bencana erupsi Gunung Gamalama, Jusuf menyatakan tidak ada perpanjangan tanggap darurat sejak berakhir 19 Desember 2011 meskipun saat ini kondisi Gunung Gamalama masih belum aman.

Sebelumnya, Pemkot Ternate mengemukakan, perpanjangan tanggap darurat bencana erupsi Gunung Gamalama pada 15-19 Desember tersebut telah diputuskan dalam rapat antara BPBD Kota Ternate, Pos Pengamatan Gunung Api Gamalama, dan sejumlah pihak terkait.

Menurut dia, perpanjangan masa tanggap darurat bencana erupsi Gunung Gamalama tersebut selain mempertimbangkan kondisi Gunung Gamalama yang masih Siaga level tiga, juga adanya ancaman banjir, seperti lahar dingin, mengingat Ternate saat ini memasuki musim hujan.

Namun, meski masa tanggap darurat bencana letusan Gunung Gamalama tidak lagi diperpanjang, hal itu tidak akan menyulitkan BPBD, terutama dalam penyediaan bahan makanan untuk para pengungsi karena stok bahan makanan untuk mereka masih banyak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau