1.000 Rumah Murah Terkendala

Kompas.com - 23/12/2011, 03:33 WIB

Balikpapan Kompas - Realisasi pembangunan 1.000 unit rumah murah di Batakan, Balikpapan, Kalimantan Timur, bakal sulit terwujud dalam waktu dekat. Pengembang masih terbentur sejumlah hal, antara lain perubahan luas lahan dan dukungan perbankan.

Itu dikatakan Karel Soekma Jaya, Direktur Utama PT Cipta Griya Sarana Asri, pengembang rumah murah itu, Kamis (22/12). ”Prinsipnya, kami tetap membangun rumah murah itu, tapi tidak bisa seketika, melainkan bertahap. Kami maju pelan-pelan sembari berharap pemerintah daerah, pusat, dan perbankan mendukung kami,” kata Karel.

Pengundian 1.000 pembeli dari warga berpenghasilan rendah di Kota Balikpapan rencananya pada Oktober lalu. Namun tidak juga terlaksana karena pengembang terbentur sejumlah hal, seperti pengajuan perubahan site plan dan perbankan.

Padahal, sudah 4.000-an berkas permohonan masuk dan 1.500 pemohon di antaranya memenuhi syarat untuk mendapatkan rumah seharga Rp 26 juta itu. Setiap pemohon telah dijelaskan kendalanya. Sejauh ini, mereka masih bisa memaklumi.

”Kami masih menunggu perubahan site plan, karena dulu, awalnya luasan tanah per kapling kami tentukan 200 meter persegi. Namun untuk rumah sangat murah ini, luasannya dikurangi jadi 108 meter persegi. Ternyata prosesnya tak mudah,” katanya.

Dari luasan 18,9 hektar lahan, diperkirakan ada 2 hektar yang di dalamnya mengandung batubara sehingga tidak bisa dimanfaatkan. Artinya, perlu lagi kajian konsultan yang butuh biaya sekitar Rp 300 juta.

Masalah lain, yakni skema Fasilitas Likuiditas Pembiayaan Perumahan (FLPP) ternyata sulit dibicarakan dengan perbankan. Pihak bank punya mekanisme dan penilaian sendiri terhadap mereka yang akan mengikuti kredit perumahan murah.

Bank antara lain menginginkan Pajak Bumi dan Bangunan (PBB) atas nama pembeli. Padahal, pengembang tidak bisa balik nama sertifikat sebelum dilakukan akad kredit. ”Aturan pemerintah untuk rumah bagi masyarakat berpenghasilan rendah itu ada, dan bagus. Tetapi praktiknya, enggak ada,” ujar dia.

Kepala Bagian Humas Pemkot Balikpapan Aji M Sofyan mengatakan, berat bagi pemkot untuk mendukung proyek itu meski punya maksud baik. ”Sulit jika kami tiba-tiba harus diposisikan mendukung penuh dan mengeluarkan APBD dalam jumlah banyak. Kami rasa, untuk rumah murah ini, semua kewajiban pengembang,” kata Aji.

Syarat jadi pemohon rumah murah, antara lain harus tercatat sebagai warga miskin, berpenghasilan maksimal Rp 2 juta per bulan dan belum punya rumah. Rumah itu bukan untuk PNS. Rangka rumah terbuat dari baja ringan model knock down. Dindingnya fiber semen (kalsibot) dan atapnya dari genteng metal. Rumah ini dicicil Rp 300.000 per bulan dan tanpa uang muka.

Pengembang berharap infrastuktur seperti jalan, listrik, air, dan perizinan dibantu pemerintah daerah atau pusat. Tetapi, masih belum terpenuhi.(PRA)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau