Dari Kue Kering hingga Tahbisan Pastor

Kompas.com - 23/12/2011, 06:49 WIB

Oleh Rini Kustiasih dan Kornelis Kewa Ama

KOMPAS.com - Hidup rukun dalam perbedaan adalah tradisi luhur di Kampung Cigugur, yang berada di Kecamatan Cigugur, Kabupaten Kuningan, Jawa Barat.

"Kalau Natal tiba, yang paling saya tunggu-tunggu itu kiriman kue-kue kering. Tetangga saya yang Natalan berbondong-bondong datang ke rumah memberi aneka makanan kue kering dan minuman," ungkap Entin (53), warga Kampung Cigugur. Kendati tidak merayakan Natal karena ia seorang Muslim, Entin ikut berbahagia saat Natal tiba.

Di Cigugur, tradisi saling memberikan makanan pada hari besar keagamaan adalah hal lumrah. Saat Lebaran, giliran Entin memberikan opor ayam dan ketupat kepada tetangganya yang beragama Kristen.

"Kalau Natal, ya, makan kue-kue kering. Kalau Lebaran, ya, makan ketupat. Kami saling mengunjungi, biar ramai, damai," ungkap Entin, Rabu (21/12/2011).

Semangat kerukunan itu tumbuh dari kearifan lokal warga Kampung Cigugur yang sebagian besar adalah orang Sunda. Kawasan itu, menurut sejarahnya, merupakan tempat pelarian Kiai Madrais, seorang berdarah biru Kesultanan Cirebon yang membangkang terhadap penjajah Belanda. Di kemudian hari, Kiai Madrais mengembangkan ajaran Sunda Wiwitan di Cigugur.

Inti ajaran Sunda Wiwitan adalah tidak melupakan identitas diri sebagai orang Sunda, apa pun agama dan kepercayaan mereka. Nilai-nilai kesundaan, seperti sopan santun, saling menghargai, dan asah-asih-asuh, harus terus dilestarikan.

Identitas

Sebagai ajaran, Sunda Wiwitan kini tak lagi dianut oleh mayoritas warga Cigugur. Namun, sebagai bagian dari identitas orang Sunda, kearifan lokal dalam Sunda Wiwitan berakulturasi dengan agama dan kepercayaan yang mereka peluk di belakangan hari. Bentuk nyata dari hal itu bisa dilihat dalam perayaan Seren Taun.

Pada perayaan tersebut, masyarakat adat dari sejumlah daerah datang mengirimkan aneka bahan makanan dan hasil bumi. Mereka yang datang ke Cigugur antara lain warga Badui di Banten, Cireundeu di Cimahi, dan Dayak Losarang di Indramayu. Mereka hadir mengenakan pakaian adat masing-masing, bersukacita mengucap syukur kepada Tuhan atas hasil panen.

Tahun ini, Seren Taun jatuh pada Sabtu, 19 November. Orang Sunda, tanpa membedakan agama dan kepercayaannya, ikut serta merayakan Seren Taun. "Semuanya diterima di sini, tak peduli apa agama dan kepercayaannya," ungkap Pangeran Djatikusumah, cucu Kiai Madrais, yang juga sesepuh Adat Karuhun Urang.

Djatikusumah mengatakan, semangat toleransi beragama sudah mendarah daging bukan hanya di Kampung Cigugur, melainkan juga di semua daerah yang berada di Kecamatan Cigugur. Dalam konsep Sunda Wiwitan, Tuhan bisa dicapai dengan banyak cara. Perbedaan agama bukan persoalan yang mesti dipertentangkan.

Tenang

Seperti halnya Entin yang bersukacita, warga lain di Kecamatan Cigugur yang beragama Kristen juga bersukacita dalam melakukan persiapan Natal. Kegiatan persiapan itu terlihat di Gereja Maria Putri Murni Sejati di Kampung Cisantana, Kecamatan Cigugur, Rabu lalu. Kampung Cisantana terletak bersebelahan dengan Kampung Cigugur.

Sekitar 20 siswa SD Yos Sudarso, Cisantana, dapat berlatih drama Natal di Gereja Maria Putri Murni Sejati dengan tenang. Dipandu Suster Rita Seripa OSU, anak-anak berjalan sambil menari mengikuti irama lagu "Malam Kudus".

Flores Timur

Semangat kerukunan yang berakar dari tradisi leluhur juga dimiliki warga di Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur. ”Tidak ada yang mustahil dalam hidup ini kalau semua anak Ibrahim saling membuka diri. Akar iman itu diperkuat dengan leluhur yang satu dan sama dari keturunan suku Lamaholot, yang mendiami Kabupaten Flores Timur, Lembata, dan Kabupaten Alor,” ujar Ketua Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Flores Timur Arsyad Mahrun di Larantuka, akhir pekan lalu.

Kerukunan ala Lamaholot tidak bisa digugat. ”Kami satu keluarga. Kalau orang Kristen dilukai, bukan mereka yang sakit, tetapi kami. Juga ketika Muslim disakiti, Kristen paling merasa sakit,” ucapnya.

Kerukunan hidup antara umat Katolik dan Islam yang begitu kental di wilayah itu sudah ada sejak ratusan tahun silam. Agama Katolik masuk melalui bangsa Portugis (1511), sedangkan Islam lewat pedagang Gujarat dan Persia (1321).

Menjelang Natal tahun ini, sejumlah desa dan kecamatan membentuk panitia Natal, yang diketuai atau beranggotakan warga Muslim. Umat Islam menawarkan diri menjadi panitia bersama warga Katolik. Sebaliknya, pada Idul Fitri, warga Katolik melamar atau diminta menjadi panitia Idul Fitri.

Kerja sama juga terlihat saat ada warga Muslim berangkat ke Tanah Suci Mekkah. Dari Larantuka, ia akan diantar tokoh dan warga Kristen. Demikian pula saat pulang ke Larantuka, ia akan dijemput warga dan tokoh agama Kristen di terminal bus.

Sebaliknya, ketika seorang warga Katolik ditahbiskan menjadi pastor, seperti tahbisan Pastor Moses Watan Boro Pr di Desa Nobo Gayak, Flores Timur, pada Agustus lalu, wakil ketua panitia tahbisan adalah warga Muslim, yakni Ramli Lamanele, yang juga kepala desa di Nobo Gayak. Desa ini memiliki penduduk yang hampir 60 persen beragama Katolik.

Tempat mengaji

Di Pangkal Pinang, Bangka Belitung, warga juga terbiasa hidup rukun. Tjen Hong Liong (82), misalnya, yang beragama Katolik, tidak segan menyediakan rumahnya di Jalan Anggrek V, Pangkal Pinang, sebagai tempat anak-anak Muslim belajar mengaji sejak 23 tahun lalu.

Orang yang menjadi guru mengaji adalah Atik Ibrahim, yang diangkat anak oleh Tjen dan istrinya, Ho Mie Sian. "Suatu hari dia dan keluarganya datang cari kontrakan. Saya bilang, tinggal di sini saja. Waktu dia mulai mengajar mengaji, saya sediakan ruangan," ujar Tjen.

Atik dan keluarganya pun sama sekali tidak canggung ikut sibuk menyiapkan perayaan Natal di rumah keluarga Tjen. Kesibukan ini dipandang sebagai bagian dari kegiatan keluarga.

Keluarga Tjen tidak memandang perbedaan agama sebagai hal yang harus dibesar-besarkan. "Saat puasa dan Lebaran, gantian saya dan istri sibuk persiapan. Saya dan istri selama bertahun-tahun membangunkan mereka sahur," tutur Tjen. (RAZ)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau