JAKARTA, KOMPAS.com - Kepolisian RI membantah pembubaran unjuk rasa di Pelabuhan Sape Bima, Nusa Tenggara Barat, Sabtu (24/12/2011), untuk kepentingan pertambangan. Pembubaran diklaim terpaksa dilakukan lantaran unjuk rasa telah mengganggu kepentingan umum.
"Massa telah memblokir kawasan pelabuhan sejak 19 Desember sehingga sangat mengganggu kepentingan umum, terutama aktivitas perlintasan barang dan orang dari NTB ke NTT," kata Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar kepada Kompas.com, Minggu ( 25/12/2011 ).
Boy mengatakan, pihaknya telah melakukan langkah-langkah preemtif, preventif, dan penegakan hukum untuk mengembalikan fungsi pelabuhan. Sebelum pembubaran paksa, kata Boy, pihaknya telah memediasi antara para pengunjuk rasa dengan Pemda Bima.
"Namun mereka tetap melakukan aksinya dan membawa berbagai jenis senjata tajam dan bom molotov," kata Boy.
Polri ditunggangi
Neta S Pane Ketua Presidium Indonesia Police Watch menilai, berbagai benturan antara polisi dengan rakyat di berbagai daerah lantaran Kepolisian telah dimanfaatkan pemerintah pusat untuk kepentingan pengusaha besar atau pihak asing.
"Pemerintah pusat dan daerah makin kehilangan nasionalisme dalam menyikapi kepentingan pengusaha, terutama pengusaha asing. Uang sudah membuat para pejabat seperti agen-agen asing. Akibatnya, mereka tidak peduli dengan keluhan rakyat akan kerusakan lingkungan hidup yang mengganggu ekosistem dan sumber hidup rakyat," kata Neta.
"Ironisnya, saat rakyat berusaha membela hak-haknya, polisi atas nama ketertiban umum malah melakukan penembakan. Padahal, jika polisi konsisten melakukan penegakan hukum, polisi harus lebih dulu menangkap pejabat dan pengusaha yang terlibat dalam pengerusakan lingkungan," pungkas Neta.
Seperti diberitakan, dalam pembubaran paksa itu, dua orang dari massa yang berunjuk rasa, yakni Arief Rachman (18) dan Syaiful (17) tewas. Tiga orang provokator ditangkap yakni H (DPO Polda NTB), A alias O, dan Sy. Jumlah massa yang diamankan dan diambil keterangan di Polres Bima sebanyak 31 orang.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang