Saat pertama kali diluncurkan, mata uang euro melambangkan sebuah idealisme yang sempat membuat iri kawasan lain. Sebagai mata uang bersama Eropa, euro menjanjikan kebersamaan dan persatuan Eropa, harga yang stabil, dan kemudahan melakukan perjalanan antarnegara di seluruh negara pengguna mata uang ini.
Namun, saat krisis ekonomi melanda seluruh Eropa saat ini, pesona dan idealisme euro pun memudar, bahkan di kalangan warga negara zona euro. Perwujudan paling nyata integrasi Eropa dalam kehidupan sehari-hari itu kini menjadi simbol krisis utang dan kemerosotan ekonomi.
Masyarakat di Paris, Madrid, Berlin, sampai Bratislava pun mulai terkenang-kenang kekuatan mata uang nasional mereka sebelum diubah menjadi euro.
Jajak pendapat menyebutkan, 85 persen rakyat Jerman yakin penerapan euro menyebabkan kenaikan harga, dan makin banyak orang di sana ingin kembali menggunakan deutsch mark, mata uang lama Jerman.
Di Spanyol, 70 persen warga memandang penggunaan euro di negara mereka tak berpengaruh banyak secara positif atau bahkan tak ada efeknya terhadap kehidupan masyarakat. Yang ada, harga-harga jadi naik. ”Saat kami menerapkan euro, apa yang dulu harganya 100 peseta menjadi 1 euro, atau 160 peseta,” kata Maria Angeles, warga Madrid.
Dampak kenaikan harga itu makin terasa di negara-negara pendatang baru zona euro, seperti Slowakia.
”Harga barang-barang langsung naik begitu kami mengadopsi euro. Dulu, hanya pensiunan saja yang kesulitan memenuhi kebutuhan sehari-hari. Tetapi kini, keluarga-keluarga muda pun kesulitan memenuhi kebutuhan mereka,” tutur Elena (72), warga Bratislava, ibu kota Slowakia, yang menggunakan euro sejak 2009.
Rodny Kamil (29), warga lain Bratislava, hanya bisa membeli barang dengan jumlah lebih sedikit saat menggunakan euro daripada saat memakai mata uang lama Slowakia meski nilai uangnya sama. ”Jadi untuk membeli barang-barang yang saya butuhkan, saya harus bekerja lebih keras,” tutur Kamil.
Kelebihan lain euro, yakni mempermudah perjalanan antarnegara tanpa susah-susah menukarkan uang, juga tak terasa di masa krisis ini. ”(Dengan euro), Anda memang tak perlu menukar uang saat bepergian, tetapi saya sekarang tak pernah bepergian lagi karena apa-apa mahal,” imbuh Kamil.
Rekan senegara Kamil, Jano Bosansky (50), mengaku pesimistis dengan masa depan euro. ”Kami menyelamatkan negara-negara anggota zona euro yang lebih kaya tetapi banyak utang, kami meminjamkan uang kepada mereka. Pada saat yang sama, kami ini tenaga kerja murah dan segala sesuatu menjadi lebih mahal saat ini,” tukas Bosansky.
Pendapat masyarakat ini mungkin tak mewakili fakta sesungguhnya tentang mata uang euro. Soal euro menjadi pemicu kenaikan harga, misalnya, statistik di zona euro menunjukkan laju inflasi selama satu dasawarsa terakhir hanya sekitar dua persen per tahun.
Namun, pendapat masyarakat itu mewakili hilangnya pesona dan mimpi-mimpi ideal yang ditawarkan euro di masa lalu. Bahkan, di lingkungan Uni Eropa sendiri mata uang tersebut sudah tak memikat.
Inggris, yang belum merelakan poundsterlingnya diganti euro, makin tak berminat bergabung ke zona euro. Di Lituania, untuk pertama kali sejak 2005, jajak pendapat menunjukkan makin banyak warga yang menentang penerapan euro daripada yang mendukung.
Akankah euro pun menjadi kenangan tak lama lagi? Entahlah, yang jelas orang mulai khawatir.