Aksi Jahit Mulut Menarik Simpati Warga Masyarakat

Kompas.com - 27/12/2011, 20:08 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Aksi jahit mulut yang dilakukan warga Pulau Padang, Riau, ternyata menarik simpati  masyarakat. Seorang pria yang tak mau disebutkan namanya, Selasa (27/12/2011), menyumbangkan sejumlah bahan kebutuhan pokok serta beberapa jenis obat untuk pelaku jahit mulut tersebut.

Sekitar pukul 17.30, pria dengan perawakan gemuk dan memakai topi berwarna biru tersebut datang bersama istrinya dengan menggunakan mobil Toyota Avanza warna silver. Setelah melakukan diskusi dengan beberapa pelaku aksi, ia lantas membuka pintu belakang mobilnya dan mengangkut satu karung beras dan beberapa kantong berisi obat-obatan.

Ia mengaku tersentuh setelah melihat di media masa (televisi) tentang aksi jahit mulut warga Pulau Padang tersebut. "Sebagai sesama masyarakat Indonesia, saya enggak tega melihat keadaan seperti ini. Sudah merdeka, kok, mereka rela mengorbankan dirinya seperti ini supaya tuntutannya tercapai," ujar pria yang mengaku bekerja sebagai wiraswasta dan tinggal di Jakarta Barat tersebut.

Ia berharap sumbangannya yang tak seberapa itu berguna bagi para pelaku aksi menjalani hari-harinya dengan mulut terjahit. "Ya, walau tak seberapalah, saya berharap tuntutan mereka terpenuhi tanpa ada korban jiwa," ujarnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, aksi tersebut merupakan penolakan warga Pulau Padang terhadap Surat Keputusan (SK) Menteri Kehutanan Nomor 327 Tahun 2009. SK yang ditandatangani MS Kaban itu merupakan izin operasional hutan tanaman industri (HTI) yang dikantongi PT Riau Andalan Pulp & Paper (RAPP).

Dengan adanya SK ini, RAPP memiliki kewenangan untuk mengubah hutan dan perkebunan milik warga saat ini menjadi hutan akasia untuk kebutuhan industri. Selain penyerobotan lahan warga, SK HTI ini juga dikhawatirkan akan berpengaruh besar terhadap kondisi lingkungan lahan gambut di salah satu pulau kecil terluar RI tersebut.

Siang tadi, satu pelaku jahit mulut bernama Budiono, warga Desa Pelantai, Kecamatan Merbau, Pulau Padang, dibawa ke RSCM karena kondisi fisiknya menurun. Massa aksi berjanji akan tetap melakukan aksi tersebut hingga tuntutannya terpenuhi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau