BANDUNG, KOMPAS -
Hal tersebut dikemukakan Direktur Promosi dan Pemasaran PT Persib Bandung Bermartabat (PBB) Muhammad Farhan, Selasa (27/12). Persib adalah salah satu dari klub-klub yang menerima sanksi PSSI karena hengkang dari Liga Prima Indonesia (LPI) untuk bergabung ke LSI.
”Dalam rekonsiliasi pasti ada kompromi. Kalau hanya mengandalkan kekuasaan dan legalitas karena didukung FIFA, itu namanya memaksakan kehendak,” ujar Farhan.
PSSI saat ini mengirim utusan ke klub-klub peserta LSI untuk menyampaikan surat berisi ajakan kembali tampil di kompetisi PSSI. Langkah itu dilakukan untuk memenuhi instruksi FIFA yang tertuang dalam surat bersama AFC, 21 Desember 2011.
”Klub-klub yang bermain di ISL (Indonesian Super League atau LSI) mengganggu kapasitas PSSI dalam mematuhi Statuta FIFA,” demikian FIFA dalam suratnya. ”Oleh karena itu, penting PSSI mengambil langkah yang tepat agar klub-klub yang bermain di ISL kembali di bawah kontrol PSSI.”
PSSI memberi waktu dua pekan bagi klub-klub LSI untuk kembali ke kompetisi di bawah kontrol PSSI. Komisaris PT PBB Kuswara S Taryono mengungkapkan, rencana kehadiran
Persib akan mendengarkan dahulu keinginan dari perwakilan PSSI, setelah itu baru akan dibahas secara internal. Hingga kini, Persib masih mengikuti jadwal kompetisi LSI. Pada 5 Januari, mereka bakal menjamu PSAP Sigli di Stadion Si Jalak Harupat dan dilanjutkan PSMS Medan, 9 Januari.
Salah satu klub yang telah didatangi pengurus PSSI adalah Sriwijaya FC. Kantor berita Antara melaporkan, tim rekonsiliasi PSSI menyambangi manajemen Sriwijaya FC di Palembang, Senin (26/12), untuk mengirimkan surat ajakan bergabung ke LPI.
Mereka diterima Direktur Keuangan PT Sriwijaya Optimis Mandiri (SOM) Augie Bunyamin dan Sekretaris PT SOM Faisal Mursyid. Augie mengatakan, pihak PSSI hanya minta saran-sa-
”Rupanya PSSI hanya meminta saran kami, tak ada yang lain,” katanya, seperti dikutip Antara. Ada tiga poin permintaan atau usulan dari Sriwijaya FC yang ditandatangani Faisal Musyid selaku wakil manajemen klub itu.
Pertama, PSSI diharapkan dapat mempertemukan seluruh para pemangku kewenangan dalam satu forum. Kedua, meminta PSSI menelaah kembali sanksi yang dijatuhkan kepada Sriwijaya FC karena Sriwijaya mempunyai tim tersendiri dengan manajemen berbeda untuk tampil di LPI.
Ketiga, PSSI diharapkan tidak membuat pernyataan-pernyataan yang menyudutkan klub, pengelola LSI, baik nama maupun yang bersifat pribadi, karena bisa memperkeruh keadaan saja.
”Tiga permintaan ini sebagai aspirasi untuk membenahi persepakbolaan di Indonesia. Dengan merangkul setiap klub LSI yang ada, akan diperoleh usulan-usulan yang baik sehingga kompetisi yang sekarang ini dapat berjalan sebagaimana mestinya,” kata Augie.
Selama menunggu tanggapan PSSI dan selesainya masalah dualisme liga ini, Augie menyatakan, Sriwijaya FC akan tetap berlaga di LSI. Dalam kesempatan terpisah, Manajer Sriwijaya FC Henri Zaenuddin mengatakan, klubnya akan tetap mengikuti LSI dengan pertimbangan kompetisi ini berkualitas dan terdiri atas klub-klub berprestasi baik.
”Keikutsertaan Sriwijaya FC di LPI karena kami masih menghargai PSSI sebagai badan resmi,” kata Henri, Selasa (27/12).
Berbeda dari sebagian besar klub-klub LSI, Sriwijaya FC menyiasati dualisme kompetisi dengan membentuk dua tim. Satu tim yang diperkuat para pemain utama tampil di LSI, satu tim lainnya berlaga di LPI. Namun, karena masih berlaga di LSI, klub itu tetap mendapat sanksi PSSI.
Terkait kemelut persepakbolaan di Tanah Air, Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional Indonesia (APPI) mendesak PSSI dan PT Liga Indonesia segera memulai pembicaraan untuk proses rekonsiliasi. ”Sekarang saatnya melihat apakah pihak-pihak yang berkonflik tersebut benar-benar mau memajukan atau malah menghancurkan sepak bola Indonesia,” demikian pernyataan APPI melalui akun Twitter resminya.