JAKARTA, KOMPAS.com - Divisi Advokasi Aliansi Jurnalis Indenpenden (AJI) Indonesia mencatat kasus kekerasan fisik terhadap jurnalis meningkat dari 16 kasus pada 2010 menjadi 19 kasus pada periode 2011. Ketua Umum AJI Eko Maryadi mengatakan kekerasan fisik tersebut didominasi oleh aparat pemerintah, dan kelompok massa.
"Dan kekerasan fisik itu meliputi intimidasi teror, pemukulan, penyerangan, pengeroyokan, pembakaran, sampai pembunuhan terhadap jurnalis," ujar Eko saat menggelar jumpa pers Catatan Akhir Tahun 2011, di Sekretariat AJI, Jakarta, Rabu (28/12/2011).
Dalam catatan AJI, berbagai kekerasan fisik tersebut paling banyak terjadi di sejumlah daerah, yang melibatkan para kontributor media cetak, televisi, maupun elektronik.
Eko menuturkan, sebanyak 12 kasus kekerasan fisik terjadi di daerah, dan empat kekerasan fisik terjadi di Jakarta. "Korban kekerasan fisik terakhir terjadi di Jakarta, yaitu seorang juru kamera stasiun televisi TVOne, ditusuk oleh seorang pemuda bernama Adil Firmansyah yang merangsek masuk ke dalam studio 'Apa Kabar Indonesia Malam' di Wisma Antara, pada 12 Desember kemarin," jelasnya.
Meski demikian, Eko mengungkapkan, total jumlah kekerasan non-fisik maupun fisik menurun, dari total 51 kasus pada 2010, menjadi 49 kasus pada 2011. Namun, meskipun menurun, kata Eko, pemerintah khususnya aparat keamanan harus tetap memperhatikan keselamatan para jurnalis dari berbagai bentuk ancaman tersebut. "Dan kami juga meminta agar masyarakat menghentikan aksi-aksi kekerasan terhadap jurnalis dan pers, dan meminta ketegasan aparat hukum dalam mengusut kasus-kasus kekerasan tersebut," kata Eko.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang