Kebutuhan Impor BBM meningkat

Kompas.com - 29/12/2011, 18:08 WIB

CILACAP, KOMPAS.com - Total kapasitas produksi bahan bakar minyak nasional belum dapat memenuhi kebutuhan nasional. Untuk itu hingga saat ini Indonesia masih mengimpor BBM.

Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Mochamad Harun, menyampaikan hal itu, Kamis (29/12), di Jakarta.

Direktur Utama PT Pertamina Karen Agustiawan menyatakan hingga saat ini Pertamina masih mengimpor BBM. Saat ini volume impor premium 12 juta kilo liter dan solar 3 juta kl. Volume impor BBM ini akan meningkat sejalan dengan peningkatan laju konsumsi BBM.

Adapun total kapasitas produksi BBM 41 juta kilo liter per tahun. Sementara kebutuhan nasional saat ini mencapai 56 juta kl per tahun dan terus meningkat dengan laju konsumsi rata-rata 4 persen per tahun.

Dengan tingkat kebutuhan nasional itu, produksi premium dari kilang Pertamina hanya dapat memenuhi kebutuhan premium 52 persen, produk solar 86 persen dan avtur dapat terpenuhi 100 persen.

"Untuk memenuhi kebutuhan BBM nasional, sangat sulit bagi kilang-kilang Pertamina yang rata-rata dibangun tahun 1970 sampai 1980-an untuk memenuhi konsumsi BBM nasional yang terus meningkat," kata Karen.

Di sisi lain, untuk dapat membangun kilang baru dalam waktu dekat, masih menemui kendala. Karena tingkat margin rendah, pembangunan kilang baru harus terintegrasi dengan Petrokimia dan investor butuh insentif karena nilai investasi amat besar.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau