DENPASAR, KOMPAS.com - Bunyi petasan mulai marak di Kota Denpasar dan sekitarnya sejak Sabtu (31/12/2011) petang, mewarnai suasana menyambut malam tahun baru 2012. Kilatan kembang api di udara pun mulai mewarnai langit kota itu.
Denpasar malan ini memang tampak sangat ramai, walau sebelumnya sempat diguyur hujan. Firlan seorang pedagang petasan dan kembang api mengaku awalnya pesimistis dagangannya laku terjual. Ia mengatakan, sehari menjelang pergantian tahun dari 2011 ke 2012 sepi pembeli.
"Peminatnya agak sepi dibanding tahun lalu," katanya.
Apalagi sebelumnya, kata dia, sempat ada larangan menjual petasan dan kembang api oleh petugas Dinas Ketenteraman dan Ketertiban Denpasar. Ia mau tak mau harus kucing-kucingan dengan petugas untuk menjual dagangannya itu.
"Saya sempat sembunyi-sembunyi untuk menjual petasan dan kembang api tersebut, karena saya dikejar-kejar petugas dinas ketenteraman dan ketertiban," ucap pria asal Banyuwangi, Jawa Timur, itu.
Ia menuturkan, harga petasan sangat variatif mulai ukuran kecil Rp 2.000 hingga Rp 40.000 dengan ukuran besar. Ukuran petasan juga mempengaruhi suara ledakannya, semakin besar ukurannya maka dentumannya makin keras.
Saat ini, Firman sendiri tengah sibuk melayani pembeli di Jalan Cok Trisna kawasan Renon, Denpasar. Dia bilang, untuk menjual petasan dan kembang api malam ini adalah malam terakhir, sehingga dirinya berupaya barang yang dijual laku malam ini.
"Sisa sedikit tidak apalah, yang penting dapat untung sedikit," ucapnya.
Sebelumnya, Kepala Dinas Ketenteraman dan Ketertiban, Satpol PP Kota Denpasar Ketut Nick Natha Wibawa mengaku gencar melakukan penertiban pedagang kaki lima yang menjual petasan dan kembang api.
"Petugas kami gencar melakukan penertiban pedagang petasan dan kembang api. Bahkan dalam melakukan razia sempat kejar-kejaran dengan oknum yang membekingi penjualan ’barang ledakan’ tersebut," katanya.
Dalam mengambil tindakan tersebut, kata dia, pihaknya tidak ada kompromi lagi, barang sitaan langsung dimusnahkan dengan cara menyelupkan ke air dan menyobek petasan tersebut.
"Kalau sudah dicelupkan ke air otomatis petasan tersebut tidak bisa dimanfaatkan lagi atau diledakan," katanya.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang