Insiden di somalia

Dokter Andrias Tewas karena Lindungi Teman

Kompas.com - 01/01/2012, 18:41 WIB

KOMPAS.com - Seoran dokter warga negara Indonesia, Andrias Karel Melkianus Keiluhu (44), tewas ditembak oleh pria bersenjata di Mogadishu, Somalia, Kamis (29/12/2011). Peristiwa penembakan berdarah tersebut terjadi saat Andrias menajalankan tugas kemanusian bersama dengan sejumlah tim relawan lainnya dari berbagai penjuru dunia.

Menurut anak sulung korban, Fae, saat ditemui di rumah duka di Tangerang, Sabtu (31/12/2011), ayahnya meninggal di dalam gudang. Saat itu, Andrias sedang bersama rekannya dari Belgia, Phillipe Havet (53). Tiba-tiba pria Somalia bekas pegawai MSF mengeluarkan senjata dan menembakkan ke arah Phillipe. Tiga peluru bersarang di tubuhnya.

Entah bagaimana Andrias juga tertembak di bagian paha. Nyawa Andrias tak bisa diselamatkan karena ketika dioperasi di Rumah Sakit Madina, mengalami pendarahan hebat.

Belakangan diketahui, aksi nekat pria itu dilatarbelakangi sakit hati. Karena dipecatnya ia dari MSF dilakukan Phillipe, namun berefek kepada Andrias yang kabarnya saat itu melindunginya.

Fae sempat meragukan kabar kematian ayahnya. Informasi kematian Andrias yang gemar membaca novel dicarinya lewat internet. Hatinya harus menerima, ketika nama ayahnya memang dipastikan tewas oleh kantor pusat Medecins Sans Frontier di Belgia. Andrias sudah bergabung dengan organisasi internasional ini sejak 1998.

"Buat aku, papah baik banget. Punya jiwa sosial besar. Makanya ketika papah dikabarkan meninggalnya, dibilang sedih ya aku sedih. Tapi aku lebih bangga karena papah bisa jadi relawan untuk aksi kemanusian," ujar Fae sambil mendekap foto Andrias yang difigura kayu.(Tribunnews.com/Yogi Gustaman)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau