Diselamatkan Air Kawah Ijen

Kompas.com - 01/01/2012, 19:17 WIB

Keasaman Air Mengancam Penduduk

JAKARTA, KOMPAS
- Keberadaan 30 juta meter kubik air di kawah Gunung Ijen, Jawa Timur, mampu menurunkan suhu tinggi yang dipicu peningkatan aktivitas vulkanik gunung itu. Dengan demikian, tekanan dari dalam dapur magma berkurang dan gunung tidak jadi meletus.

”Jika kawah Gunung Ijen kering atau jumlah airnya sedikit, tadi malam (Kamis, 29/12), gunung itu meletus,” kata Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Surono yang dihubungi dari Jakarta, Jumat (30/12).

Status Gunung Ijen ditetapkan menjadi Siaga (level III) sejak 18 Desember. Hingga kini PVMBG belum meningkatkan statusnya menjadi Awas (level IV) karena aktivitas vulkaniknya menurun.

”Naik turunnya aktivitas Gunung Ijen berulang kali terjadi. Keberadaan 30 juta meter kubik air di kawah yang menjadi penyeimbang,” katanya.

Gunung setinggi 2.386 meter ini terletak di Kabupaten Bondowoso dan Banyuwangi. Kawah yang menampung 30 juta meter kubik air itu berukuran 800 meter x 700 meter dengan kedalaman 180 meter. Letusan terakhir gunung ini terjadi pada 1993 yang menghasilkan kepulan asap hitam setinggi 1.000 meter.

Hendra Gunawan, Kepala Subbidang Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat PVMBG, menambahkan, kegempaan vulkanik kini didominasi gempa tremor frekuensi rendah. Adapun gempa vulkanik sudah menurun signifikan.

Meski demikian, kata Surono, air kawah Ijen menjadi sumber kekhawatiran terbesar para pemerhati gunung api. Berbeda dengan beberapa gunung api lain yang bahaya utamanya terletak pada awan panas atau aliran lava, bahaya terbesar Gunung Ijen terletak pada air kawah.

Air kawah Ijen memiliki tingkat keasaman (pH) di bawah satu, mirip dengan air aki. Selama Oktober, derajat keasaman air kawah 0,6-0,8. Pada November, berkisar 0,79-0,87.

Jika ada letupan kecil yang membuat air kawah terlontar 20 meter di atas permukaan air kawah, air akan tertumpah. Air akan mencari daerah lebih rendah, termasuk ke sungai dan permukiman warga di kaki gunung.

Jika masuk ke sungai, air kawah akan merembes ke sumber air warga. Selain terasa pahit, air asam juga merusak gigi warga.

Jika 30 juta meter kubik air kawah meluap dan langsung turun ke wilayah permukiman warga, ”tsunami air aki” seakan terjadi.

Kepala Pusat Data, Informasi, dan Hubungan Masyarakat Badan Nasional Penanggulangan Bencana Sutopo Purwo Nugroho mengatakan, akibat tingkat keasaman tinggi dari air kawah Gunung Ijen, jika mengenai manusia, kulitnya akan melepuh.

Air kawah Gunung Ijen biasanya mengalir ke Sungai Banyuputih di Kabupaten Bondowoso. Bantaran sungai itu dihuni sekitar 9.000 orang.

”Saat ini sedang disiapkan jalur evakuasi dan relokasi bagi masyarakat jika mereka terpaksa diungsikan,” katanya.

Mengungsi

Meski belum ada perintah dari pemerintah untuk mengungsi, sebagian masyarakat sekitar Gunung Ijen mulai mengungsi sendiri sejak Kamis. Mereka umumnya warga Desa Sumberwringin, Sukosari, dan Wonosari, yang berada di jalur tumpahan air kawah Gunung Ijen.

Bupati Bondowoso Amien Said Husni mengatakan, saat terjadi luapan air kawah Gunung Ijen, masyarakat yang tinggal hingga 100 meter dari bantaran Sungai Banyuputih harus menjauh.

”Tempat-tempat pengungsian sejak Kamis malam sudah disiapkan, antara lain di Kantor Kecamatan Sempol yang mampu menampung 1.000 orang dan lapangan Kalisat,” katanya.

(MZW/SIR)

Ikuti perkembangan Ekpedisi Cincin Api di: www.cincinapi.com atau melalui facebook: ekspedisikompas atau twitter: @ekspedisikompas

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman Selanjutnya
Halaman:
Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau