5 Kesalahan Pasangan dalam Mengelola Keuangan

Kompas.com - 03/01/2012, 08:47 WIB

KOMPAS.com - Uang sering menjadi pemicu berbagai permasalahan, salah satunya dalam hubungan suami istri. Sebuah penelitian di Amerika mengungkapkan, hampir seperempat pasangan suami istri di Amerika ternyata menyembunyikan masalah keuangan dari pasangan mereka masing-masing. The National Foundation for Credit Counseling menunjukkan adanya tekanan dan permasalahan dalam keuangan menjadi alasan utama untuk bercerai. Hal ini didukung pula oleh sebuah studi pada tahun 2009 berjudul Bank on It: Thrifty Couples are the Happiest yang menyebutkan, masalah uang termasuk dalam tiga masalah utama penyebab perceraian selain penyalahgunaan narkoba dan perselingkuhan.

Bila dicermati, ada beberapa kesalahan yang sering dialami pasangan suami istri dalam mengelola keuangan menurut Stacy Johnson, penulis dan pembawa acara Money Talks, yaitu:

1. Kurang komunikasi. Sangat penting untuk menyisihkan waktu dengan pasangan Anda untuk membahas topik pengelolaan keuangan, sehingga masalah keuangan tidak akan terjadi dan berlarut-larut. Anda bisa membuat percakapan yang santai bersama pasangan, namun jangan sampai menyalahkan satu sama lain akibat cara mengelola uang yang berbeda. Bahas masalah ini ketika sedang bersantai berdua sambil menonton televisi, sarapan, atau ketika sedang dalam suasana santai di atas tempat tidur. Berkomunikasi dengan lancar, tepat waktu, dan sering, sangat penting bagi setiap hubungan.

2. Merahasiakan sesuatu. Banyak pasangan yang menyembunyikan barang belanjaan mereka satu sama lainnya. Berbagai pengeluaran ini bisa menjadi kejutan yang tidak menyenangkan bagi pasangan ketika mengetahui rahasia Anda ini, apalagi jika Anda menggunakan kartu kredit untuk membelinya. Alasan yang sering digunakan untuk menutupi pengeluaran ini adalah karena Anda merasa bersalah karena telah membeli barang-barang yang mahal dan sebenarnya tidak diperlukan. Selain itu, Anda tidak ingin disebut seperti anak kecil yang selalu melaporkan setiap hal yang dibeli. Salah satu solusi yang bisa dilakukan untuk mengatasi kebiasaan ini adalah dengan memperlakukan pasangan kita sebagai orang dewasa yang independen, misalnya memiliki rekening bank yang terpisah, atau memiliki batas pengaturan pengeluaran uang bersama. Namun yang paling jelas adalah harus adanya keterbukaan antara pasangan agar Anda tak lagi sembunyi-sembunyi dalam melakukan sesuatu.

3. Tak menabung. Banyak pasangan yang masih sulit untuk menyisihkan uang untuk ditabung. Tabungan sangat diperlukan untuk berbagai kesulitan yang mungkin tiba-tiba dihadapi, misalnya saja untuk biaya perawatan di rumah sakit, atau memperbaiki atap rumah yang bocor. Hal yang paling utama untuk bisa melakukan hal ini adalah membangun motivasi yang kuat untuk mulai menyisihkan sejumlah uang untuk ditabung. Tapi ingat, tidak menabung dari uang yang tersisa di akhir bulan, melainkan menyisihkan sejumlah uang setelah gajian untuk ditabung.

4. Menghindari perbedaan. Dalam pernikahan, pasangan sering mengganggap mereka sudah sehati dan sepikiran, sehingga melupakan perbedaan pemikiran yang ada, terutama dalam pengelolaan uang. Tak jarang hal ini akan menciptakan perbedaan yang melebar dalam urusan lain. Sebaiknya diskusikan terlebih dulu bagaimana cara Anda mengelola keuangan seperti menabung, membeli produk asuransi, atau berinvestasi. Jangan biasakan untuk mengambil keputusan secara sepihak, karena hal ini bisa menyebabkan pasangan merasa tidak dilibatkan, atau tidak dipercaya dalam mengelola keuangan bersama. Berdiskusi dan putuskan hal ini bersama-sama.

5. Memilih waktu yang salah. Berbagi segala hal kepada pasangan Anda dan tak merahasiakan apapun memang romantis, namun ternyata terbuka mengenai segala sesuatu juga tidak selalu menguntungkan. Berbagi cerita dan masalah di saat yang tidak tepat justru akan menambah masalah. Misalnya Anda membeberkan utang kartu kredit yang nyaris tak terbayar saat pasangan sedang lelah. Pilihlah saat yang tepat untuk berdiskusi dengan pasangan Anda mengenai problem keuangan apapun, terutama mengenai utang.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau