IESR: Opsi Gas Tidak Realistis

Kompas.com - 03/01/2012, 15:37 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa, menilai opsi pembatasan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dengan menggunakan compressed natural gas (CNG) dan liquid gas for vehicle (LGV) tidak realistis untuk diterapkan dalam jangka pendek.

Fabby menyebutkan, pemerintah perlu melihat kesiapan infrastruktur, ketersediaan alat converter, dan psikologi masyarakat dalam melaksanakan opsi tersebut. "Gas ini opsi yang harus diperjuangkan dalam dua hingga tiga tahun ke depan," ujar Fabby kepada Kompas.com, Selasa (3/1/2012).

Ia menyebutkan, penggunaan bahan bakar gas tersebut tidak serta-merta bisa dilakukan pada tahun ini. Fabby menyebutkan, pemerintah harus melihat, pertama, bagaimana kesiapan infrastruktur seperti stasiun pengisian bahan bakar gas (SPBG). "Saya melihat kurang dari lima pompa bensin yang siap memasok BBG (bahan bakar gas)," tuturnya.

Ia menilai, jaringan SPBG harus memadai tidak hanya di kota besar seperti Jakarta, mengingat kendaraan bermotor pada hari kerja banyak berasal dari wilayah Jakarta, Bogor, Depok, Tangerang, dan Bekasi (Jabodetabek). Jadi, kata dia, SPBG harus ada di wilayah Jakarta dan sekitarnya.

"Untuk gas, berarti perlu ada modifikasi tangki (mobil)," tambahnya. Ini tidak mudah dan bukan hal yang murah. Ia menghitung, masyarakat perlu mengeluarkan biaya Rp 7-Rp 10 juta per mobil untuk mengganti tangki dan membeli alat converter demi gas. "Pertanyaannya, siapa yang harus membayar ini," tegas Fabby. Memang masyarakat sekali saja mengeluarkan dana, tetapi tetap biaya tersebut terbilang besar.

Hal ketiga, terang dia, pemerintah perlu melihat efek psikologi. Terhadap hal ini, ia mencontohkan, bagaimana konversi minyak tanah ke tabung gas yang memunculkan beberapa kecelakaan akibat ledakan di sejumlah rumah warga. "Ini kan memengaruhi persepsi publik (akan gas)," tanggapnya.

Dengan begitu, Fabby pun bertanya sudah siapkan pemerintah memastikan keamanan bahan bakar gas ini. "Seperti halnya telepon atau komputer yang ber-wifi, kalau mau keluar ke pasar harus punya sertifikat. Nah (begitu pula), kalau tabung BBG harus ada sertifikat keamanannya. Siapa yang mau menyertifikasi itu," katanya.

Sebagai sebuah opsi, terang dia, penggunaan CNG dan LGV ini baik. Ini juga telah berlangsung di kota-kota besar seperti Bangkok, di mana polusi dan beban subsidi BBM bisa dikurangi dengan penggunaan gas ini. Akan tetapi, kata Fabby, kebijakan ini tidak serta-merta bisa langsung diterapkan mulai April mendatang. "Itu tidak realistis," ujarnya.

Seperti diberitakan, pemerintah sedang berupaya membatasi konsumsi BBM bersubsidi pada tahun ini. Pasalnya, tahun lalu kuota sebesar 40,49 juta kiloliter yang tercantum dalam APBN-Perubahan 2011 terlampaui. Pemerintah pun harus menambah volume sebesar 1,5 juta kiloliter. Otomatis anggaran subsidi pun melonjak hingga mencapai Rp 160 triliun pada tahun 2011. Opsi pembatasan yang sekarang sedang gencar dibahas pemerintah adalah penggunaan CNG untuk kendaraan umum dan LGV untuk kendaraan pribadi.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau