Kriminalitas

Ajat Geram Anaknya Jadi Korban

Kompas.com - 03/01/2012, 16:46 WIB

BANDUNG, KOMPAS.com - Ajat Sudrajat (39), warga Desa Cipacing, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang, hanya bisa kesal tapi tak berdaya sewaktu ditemui di depan bangsal RSUP Hasan Sadikin, Selasa (3/1/2011). Anaknya yang berusia 15 tahun, Luqmanul Hakim, terbaring tidak sadar sejak Minggu (1/1/2012) dini hari lalu.

Pada Minggu dini hari, dia mendapatkan kabar dari polisi bahwa anaknya tidak sadar dan berada di RS AMC Cileunyi. Ternyata, dia mendapati Luqman menderita luka bekas sabetan senjata tajam di kepala, dengan panjang lebih dari 10 sentimeter. Dia pun dirujuk ke Hasan Sadikin hingga kini.

Luka sabetan itu mengakibatkan serpihan yang menempel di otak Luqman belum bisa diambil. "Dalam waktu dekat akan dioperasi lagi, untuk mengeluarkan serpihan tengkorak agar tidak melukai otak," ujar Ajat.

Dia menduga anaknya kembali menjadi korban kebringasan geng motor. Mustahil luka yang ada di tubuh Luqman didapatkan dari tabrakan atau terjatuh. Pertama kali mendapatkan kabar, Ajat diberitahu bahwa anaknya mengalami kecelakaan tunggal.

Kejadian naas yang menimpa Luqman terjadi justru sewaktu dia ingin merayakan malam tahun baru di Jatinangor Town Square. Dia bersama sahahat karibnya, Firman, naik motor Yamaha Mio yang baru dibeli dua bulan sebelumnya. Hanya saja, Ajat sendiri tidak tahu persis dimana Luqman mengalami kejadian itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau