Inilah "Sniper" Amerika Paling Mematikan

Kompas.com - 04/01/2012, 11:00 WIB

WASHINGTON, KOMPAS.com — Seorang mantan anggota Navy SEAL dinobatkan sebagai sniper paling mematikan Amerika dengan rekor 255 penembakan jarak jauh, 160 di antaranya diakui oleh Pentagon. Chris Kyle (37) menumbangkan rekor sebelumnya yang dipegang Adelbert F Waldron, seorang anggota Angkatan Darat AS di masa Perang Vietnam. Rekor Waldron adalah 109 tembak mati.

Dalam otobiografi yang diberinya judul American Sniper, dia mengisahkan pengalamannya. Salah satunya adalah penembakan jarak jauh pertamanya. Korban pertamanya adalah seorang perempuan yang mendekati sekelompok anggota Marinir AS sambil membawa granat tangan, seperti dilaporkan Mail Online, Selasa (3/1/2012).

Empat kali menjalani penugasan di Irak, Kyle mendapat julukan "Al-Shaitan Ramad" atau Setan Ramadi dari para gerilyawan yang berusaha berlindung dari bidikannya. Beberapa laporan menyebutkan, mereka menyiapkan hadiah 20.000 dollar AS untuk siapa pun yang berhasil membunuh atau menangkap Kyle.

"Itu sebuah penghormatan," begitu komentarnya tentang julukan itu. Di kalangan rekan-rekannya di Navy SEAL, dia mendapat julukan sederhana, yakni "Sang Legenda".

Sebelum bergabung dengan Angkatan Laut AS, Kyle yang berasal dari Odessa, Texas, berprofesi sebagai pemain rodeo profesional. Namun, dia juga terbiasa berburu rusa dan burung pegar dengan senapan pemberian ayahnya. Kyle mengaku tidak menyadari kemampuan menembaknya sampai dia bergabung dengan AL dan unit operasi khusus SEAL.

Tembakan paling legendarisnya adalah yang dilakukannya di Sadr City pada 2008, ketika dia melihat seorang gerilyawan yang membawa alat peluncur roket dekat sebuah konvoi militer AS. Kyle menembaknya dari jarak tak kurang dari 2.000 meter menggunakan senjatanya, sebuah .338 Manua Magnum.

Dengan sederet prestasi, Kyle dianugerahi tiga Silver Stars and lima Bronze Stars. Namun, Kyle pun tak luput dari terjangan peluru. Dia pernah dua kali tertembak dan terjebak dalam enam kali ledakan bom rakitan ketika unitnya terlibat dalam baku tembak.

Mengaku sempat ragu-ragu saat harus menembak target pertamanya, si perempuan pembawa granat, dia menyatakan tidak menyesali ketika harus menembak orang.

"Sudah menjadi tugas saya untuk menembak musuh dan saya tidak menyesalinya. Yang disesali adalah orang-orang yang tidak bisa saya lindungi, yaitu marinir, tentara, dan teman-teman. Saat-saat terburuk saya datang ketika saya menjadi anggota SEAL. Namun, saya bisa mempertanggungjawabkannya di hadapan Tuhan bahwa saya melakukan tugas dengan hati nurani," katanya dalam wawancara dengan majalah Texas Monthly.

Kyle memutuskan untuk mengundurkan diri dari militer pada 2009 setelah 10 tahun mengabdi. Alasannya adalah untuk menyelamatkan pernikahan yang telah memberinya dua anak.

Sejak meninggalkan AL, lelaki yang kini tinggal di Dallas itu mendirikan Craft International, sebuah kontraktor militer. Perusahaan itu menyediakan pelatihan militer, juga jasa pengawalan dan perlindungan swasta.

Namun, Chris Kyle bukanlah penembak jitu terhebat di dunia. Rekornya masih kalah dibandingkan Simo Hayha, sniper Finlandia yang telah menewaskan 542 tentara Uni Soviet ketika negara komunis itu menginvasi Finlandia pada Perang Dunia II.

Sedangkan untuk tembakan terjauh, rekornya dipegang Craig Harrison, seorang tentara Inggris yang menewaskan dua anggota Taliban dari jarak 2.700 meter di Afganistan. Seperti Kyle, Harrison menggunakan .338 Lapua Magnum.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau