Mindo Janji Ungkap Sosok "Ketua Besar"

Kompas.com - 05/01/2012, 01:50 WIB

Jakarta, Kompas - Sosok ”ketua besar” dalam percakapan Blackberry Messenger antara Mindo Rosalina Manulang dan politikus Partai Demokrat, Angelina Sondakh, untuk sementara belum terungkap. Mindo Rosalina berjanji mengungkap hal itu dalam sidang atas terdakwa Muhammad Nazaruddin, Rabu (11/1).

Sedianya Mindo Rosalina akan mengungkap siapa sosok ”ketua besar” itu dalam persidangan kasus dugaan suap wisma atlet dengan terdakwa mantan Bendahara Umum Partai Demokrat Muhammad Nazaruddin di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi Jakarta, Rabu (4/1). Namun, majelis hakim menunda sidang karena Nazaruddin tiba-tiba mengeluh sakit sesaat setelah sidang dibuka.

Di awal persidangan, Mindo Rosalina yang dijadwalkan menjadi saksi juga sempat menangis. Ketua Majelis Hakim Dharwati Ningsih lalu menanyakan kesiapan Mindo Rosalina melanjutkan sidang dan dijawab masih butuh waktu sebentar.

Setelah sidang akhirnya ditutup, Mindo Rosalina mengungkapkan tangisannya karena dia sedih baru melihat lagi Nazaruddin setelah hampir sembilan bulan tak bertemu. ”Dia sangat kurus. Jadi agak sedih,” katanya.

Tangisan Mindo Rosalina dan pernyataan pengacara Nazaruddin bahwa kliennya mengeluh sakit membuat majelis hakim menskors sidang selama sekitar 30 menit. Dokter Komisi Pemberantasan Korupsi, dr Johanes Hutabarat, kemudian memeriksa kondisi Nazaruddin. Dalam keterangannya di depan hakim setelah sidang dibuka lagi, Johanes mengatakan, Nazaruddin memang sakit dan jika sidang dilanjutkan dikhawatirkan kondisi kesehatannya memburuk.

”Saran saya, pasien harus istirahat dengan rawat jalan dan diterapi oleh dokternya. Mungkin istirahat 2-3 hari cukup, tergantung perawatan yang dilakukan dokternya,” kata Johanes. Majelis hakim pun memutuskan sidang dilanjutkan Rabu pekan depan.

Sepanjang sidang hingga kembali dibawa petugas KPK ke LP Cipinang, Nazaruddin terlihat lesu. Dia tak meladeni satu pun pertanyaan wartawan.

Penasihat hukum tahu

Seusai sidang, Mindo Rosalina mengatakan, akan mengungkap siapa sosok ”ketua besar” yang dimaksud dalam percakapannya dengan Angelina pada sidang selanjutnya. Mindo Rosalina mengakui, dia mengetahui siapa sosok ketua besar tersebut. ”Iya, nanti, yah, hari Rabu saya, kan, akan bersidang lagi,” katanya.

Perihal sosok ketua besar ini terungkap dalam rekaman pembicaraan BBM antara Mindo dan Angelina. Dalam BBM itu, Angelina mengatakan, ada ketua besar yang ingin menikmati apel malang. Apel malang adalah kode untuk uang rupiah. Dalam pembicaraan lainnya, ada juga istilah ”apel washington” untuk kode uang dalam bentuk dollar AS. Dalam percakapan itu, Angelina menyatakan diminta ketua besar menyediakan apel malang.

Salah satu penasihat hukum Nazaruddin, Elza Syarief, mengaku, tim penasihat hukum tahu siapa sosok ketua besar yang dimaksud dalam pembicaraan BBM tersebut. Menurut Elza, pihak Nazaruddin tak mau mengungkap identitas ketua besar di media sebelum menjadi fakta di persidangan. (bil)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau