Mantan Gubernur Massachusetts tersebut unggul setelah mengumpulkan dukungan 30.015 suara peserta Kaukus Iowa, atau hanya selisih delapan suara dari mantan senator Rick Santorum yang meraih 30.007 suara. Secara persentase, kedua kandidat sama-sama mendapat dukungan 25 persen.
Di tempat ketiga ada anggota DPR AS asal Texas, Ron Paul, dengan 21 persen suara, dan mantan Ketua DPR AS Newt Gingrich di urutan keempat dengan 13 persen suara.
Gubernur Texas Rick Perry, yang sempat menjadi penantang kuat Romney dalam beberapa putaran debat, hanya memperoleh 10 persen suara. Perry pun langsung menyatakan akan pulang ke Texas dan berpikir ulang untuk melanjutkan langkahnya menuju Gedung Putih.
Kaukus Iowa menjadi pembuka rangkaian proses pemilihan pendahuluan untuk memilih calon presiden (capres) Partai Republik yang akan maju menantang presiden petahana Barack Obama dalam pemilihan presiden AS, November mendatang.
Para pengamat menilai, kemenangan tipis Romney atas Santorum dan perolehan suara yang hanya 25 persen menambah keraguan apakah dia benar-benar mampu menggalang dukungan dari basis pendukung Partai Republik.
Romney memang selalu berada di posisi teratas dalam berbagai jajak pendapat, tetapi ia tak pernah mendapat dukungan lebih dari 25 persen secara nasional.
”(Dukungan buat) Romney tidak berkembang. Jelas, dia difavoritkan untuk memenangi nominasi. Tetapi, Selasa malam hanyalah malam yang bagus buat dia, bukan malam yang hebat,” tutur ahli strategi Partai Republik, Ford O’Connell.
Dengan selisih kemenangan yang begitu tipis, jalan ke depan bagi Romney tak akan semulus yang ia bayangkan selama ini. Bagi tim kampanye Obama, yang sudah sejak lama bersiap menghadapi Romney dalam kampanye antarcapres nanti, itu berita bagus karena mereka akan menghadapi calon yang tak didukung penuh oleh simpatisan partainya.
”Para pendukung Partai Demokrat diam-diam merayakan malam ini. Mereka melihat kandidat kuat capres Republik, Mitt Romney, gagal menggalang dukungan dan para pemilih Partai Republik tak hanya merasa tidak yakin, tetapi juga tidak antusias,” ujar David Gergen, konsultan politik dan mantan penasihat empat presiden AS.
Kubu Obama akan makin diuntungkan karena beberapa rival Romney saat ini menyiapkan serangan balik dalam putaran pemilihan pendahuluan (primary) di Negara Bagian New Hampshire (10 Januari), South Carolina (21 Januari), dan Florida (31 Januari).
Gingrich, yang dukungannya merosot gara-gara iklan kampanye negatif oleh pendukung Romney di televisi, berniat membalas Romney di New Hampshire. Ia akan membuat iklan televisi yang menggambarkan Romney sebagai ”tokoh moderat” dan kurang konservatif untuk ukuran republiken.
Tim kampanye Obama pun tak tinggal diam. Manajer kampanye Obama, Jim Messina, menyatakan, hasil Kaukus Iowa tersebut jelas-jelas menunjukkan kemenangan kelompok ”ekstremis” gerakan Tea Party.
”Siapa pun yang akan memenangi nominasi Republik, kami akan menghadapi seseorang yang membawa agenda Tea Party untuk meraih kemenangan, yakni seseorang yang akan membiarkan Wall Street membuat aturannya sendiri, mengakhiri program Medicare, memberangus hak-hak kaum gay, membiarkan pasukan kita di Irak selamanya, membatasi hak-hak perempuan untuk memilih, dan menyunat social security demi membayar potongan pajak orang-orang dan perusahaan kaya,” papar Messina.