Angkutan Umum Tidak Siap

Kompas.com - 05/01/2012, 02:45 WIB

Jakarta, Kompas - Pelarangan penggunaan bahan bakar premium terhadap kendaraan pribadi dinilai belum diikuti pengaturan terhadap kendaraan umum. Padahal, kesiapan kendaraan umum dirasa perlu untuk mencegah segala gejolak yang mungkin terjadi.

”Saya yakin, Kementerian Perhubungan belum diajak bicara. Kalau begitu, bagaimana kita mempersiapkan angkutan umum? Angkutan umum jelas dibutuhkan sebagai alternatif transportasi bila masyarakat ingin beralih ke angkutan umum,” kata pengamat transportasi Rudy Thehamihardja, Rabu (4/1) di Jakarta.

Rudy memprediksi, dengan pengeluaran bahan bakar minyak yang naik sebesar 100 persen, besar kemungkinan masyarakat terkaget-kaget. ”Idealnya, mereka disasar untuk naik kendaraan umum. Namun, apa mungkin dalam beberapa bulan mampu disiapkan angkutannya?” ujarnya.

Menurut Rudy, peraturan pemerintah tentang kepengusahaan angkutan umum juga harus segera ditetapkan. ”Sebab, apa kita rela taksi mewah Alphard dengan pelat kuning mengonsumsi bensin subsidi. Apa juga truk batubara boleh membeli bensin subsidi?” ujarnya.

Rudy juga mempertanyakan mekanisme untuk sesegera mungkin mengubah pelat angkutan truk dari hitam ke kuning.

Bagi Rudy, kebijakan itu dinilainya prematur. ”Dari dulu diributkan, tetapi persiapannya nol besar. Kita tidak bicara sekadar pelarangan lho, tetapi juga kesiapan angkutan umum hingga antisipasi inflasi. Jangan sampai ada suara kontra,” katanya.

Rudy mengatakan, dia tetap berharap pemerintah tidak mencabut hak kendaraan pribadi untuk mengonsumsi premium. Rudy menegaskan, tetap lebih baik bagi pemerintah untuk menaikkan secara bertahap harga premium.

Kelangkaan

Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR) Fabby Tumiwa menilai, pembatasan BBM bersubsidi hanya akan menciptakan kelangkaan bahan bakar minyak.

”Kalau pembatasan itu di luar Jawa, pengguna kendaraan akan kesulitan mendapat BBM karena keterbatasan infrastruktur BBM nonsubsidi,” katanya.

Secara terpisah, Wakil Presiden Komunikasi Korporat PT Pertamina Mochamad Harun menjelaskan, realisasi konsumsi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi tahun 2011 mencapai 41,69 juta kiloliter. Hal ini berarti realisasi konsumsi bahan bakar bersubsidi itu 103 persen dari kuota dalam APBN Perubahan 2011 yang ditetapkan pada level 40,36 juta kiloliter.

Mengutip data per 2 Januari 2012 yang belum diverifikasi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi, realisasi BBM bersubsidi 2011 terdiri atas 25,49 juta kiloliter premium, 14,49 juta kiloliter solar, dan 1,69 juta kiloliter minyak tanah. Adapun kuota BBM bersubsidi dalam APBN-P 2011 terdiri atas premium 24,51 juta kiloliter, solar 14,06 juta kiloliter, dan minyak tanah 1,8 juta kiloliter. (RYO/EVY)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau