”Melihat kas negara masuk dengan konsep saham pemerintah dijual hanyalah sesaat karena yang harus dilihat apa setelah itu tujuan utama untuk mendorong pembangunan yang menyejahterakan rakyat, menyerap lapangan kerja, dan efisiensi pelayanan publik yang prima dengan harga terjangkau, tercapai,” kata pengamat pasar modal Yanuar Rizky, di Jakarta, Rabu (4/1).
Seperti diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, awal pekan ini, setidaknya ada tiga perusahaan BUMN yang akan menggelar penawaran saham perdana (initial public offering/ IPO) tahun ini. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebutkan, tiga BUMN yang dijadwalkan adalah PT Semen Baturaja, Pegadaian yang baru saja berubah statusnya dari perusahaan umum menjadi PT, dan Wijaya Karya.
Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, khususnya polemik yang mengiringi IPO dua BUMN terakhir PT Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia, menurut Yanuar, secara filosofis para pemangku kepentingan BUMN telah gagal karena sifat pragmatis, yakni mendapatkan dana IPO tapi melenceng dari tujuan dasar BUMN.
”BUMN adalah korporasi milik pemerintah yang bertugas dalam operasionalnya mewujudkan target-target pembangunan pemerintah dengan budget di luar APBN serta untungnya (dividen) untuk memperkuat APBN. Selama ini yang terjadi IPO malah seperti warung privatisasi saja,” kata Yanuar.
Presiden Yudhoyono kepada pelaku pasar menyatakan, pemerintah belajar banyak dari pengalaman IPO-IPO sebelumnya, termasuk dalam IPO Krakatau dan Garuda. Menurut Yanuar, karena sifatnya yang pragmatis di IPO BUMN, muncul para spekulan saat IPO berlangsung dengan kepentingan dana jangka pendek.
Secara terpisah, Direktur Utama PT Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga, menyatakan pelaku pasar menunggu realisasi dari janji pemerintah. Pasar saat ini membutuhkan emiten berkualitas sebagai pilihan jangka panjang. Ia juga melihat industri yang ditawarkan pemerintah cukup menarik.
”Cuma saya melihat size Semen Baturaja itu kecil. Supaya menarik, mesti dijual dengan sweetener,” kata Edwin.
Membuat program
Yanuar menyatakan, idealnya IPO bagi BUMN adalah lekat dengan tujuan kampanye budaya investasi lokal dengan akar filosofi menjadi terbuka sekaligus berdampak positif bagi sektor riil.
”Kita dorong BUMN yang akan menggerakkan sektor
Pemetaan sektor juga perlu
”Kalau dari sisi euforia lokal, dalam arti ada kampanye ke masyarakat dapat dividen dan punya perusahaan. Contoh bagus adalah saat IPO Telkom, penjatahannya ke ritel dan orang ingin beli,” kata dia.