IPO BUMN Jangan Pragmatis

Kompas.com - 05/01/2012, 02:59 WIB

Jakarta, Kompas - Publik berharap rencana penawaran saham perdana perusahaan-perusahaan badan usaha milik negara tahun ini dapat berjalan baik. Baik itu mengacu pada kampanye budaya investasi lokal dengan akar filosofi terbuka ke publik.

”Melihat kas negara masuk dengan konsep saham pemerintah dijual hanyalah sesaat karena yang harus dilihat apa setelah itu tujuan utama untuk mendorong pembangunan yang menyejahterakan rakyat, menyerap lapangan kerja, dan efisiensi pelayanan publik yang prima dengan harga terjangkau, tercapai,” kata pengamat pasar modal Yanuar Rizky, di Jakarta, Rabu (4/1).

Seperti diungkapkan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono, awal pekan ini, setidaknya ada tiga perusahaan BUMN yang akan menggelar penawaran saham perdana (initial public offering/ IPO) tahun ini. Menteri BUMN Dahlan Iskan menyebutkan, tiga BUMN yang dijadwalkan adalah PT Semen Baturaja, Pegadaian yang baru saja berubah statusnya dari perusahaan umum menjadi PT, dan Wijaya Karya.

Berkaca dari pengalaman yang sudah-sudah, khususnya polemik yang mengiringi IPO dua BUMN terakhir PT Krakatau Steel dan PT Garuda Indonesia, menurut Yanuar, secara filosofis para pemangku kepentingan BUMN telah gagal karena sifat pragmatis, yakni mendapatkan dana IPO tapi melenceng dari tujuan dasar BUMN.

”BUMN adalah korporasi milik pemerintah yang bertugas dalam operasionalnya mewujudkan target-target pembangunan pemerintah dengan budget di luar APBN serta untungnya (dividen) untuk memperkuat APBN. Selama ini yang terjadi IPO malah seperti warung privatisasi saja,” kata Yanuar.

Presiden Yudhoyono kepada pelaku pasar menyatakan, pemerintah belajar banyak dari pengalaman IPO-IPO sebelumnya, termasuk dalam IPO Krakatau dan Garuda. Menurut Yanuar, karena sifatnya yang pragmatis di IPO BUMN, muncul para spekulan saat IPO berlangsung dengan kepentingan dana jangka pendek.

Secara terpisah, Direktur Utama PT Financorpindo Nusa, Edwin Sinaga, menyatakan pelaku pasar menunggu realisasi dari janji pemerintah. Pasar saat ini membutuhkan emiten berkualitas sebagai pilihan jangka panjang. Ia juga melihat industri yang ditawarkan pemerintah cukup menarik.

”Cuma saya melihat size Semen Baturaja itu kecil. Supaya menarik, mesti dijual dengan sweetener,” kata Edwin.

Membuat program

Yanuar menyatakan, idealnya IPO bagi BUMN adalah lekat dengan tujuan kampanye budaya investasi lokal dengan akar filosofi menjadi terbuka sekaligus berdampak positif bagi sektor riil.

”Kita dorong BUMN yang akan menggerakkan sektor riil untuk membuat program pasca dapat modal. Memang pemerintah delusi, tapi bisa dikompensasi dengan menjual sedikit saham lama,” kata Yanuar.

Pemetaan sektor juga perlu didorong. Untuk bidang transportasi publik, misalnya, IPO ditujukan bagi pembangunan infrastruktur publik. Karena ditujukan bagi publik, IPO ditawarkan ke publik, khususnya masyarakat domestik yang memiliki dana. Maka, didorong penjatahan yang merata dan euforia publik dengan intermediasi.

”Kalau dari sisi euforia lokal, dalam arti ada kampanye ke masyarakat dapat dividen dan punya perusahaan. Contoh bagus adalah saat IPO Telkom, penjatahannya ke ritel dan orang ingin beli,” kata dia. (BEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau