Minuman keras

Inilah Cara Membedakan Miras Palsu

Kompas.com - 05/01/2012, 13:42 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Sepanjang tahun 2011, Direktorat Reserse Narkoba Polda Metro Jaya menggerebek enam tempat pabrik rumahan minuman keras (miras) palsu di wilayah Jakarta. Beberapa tempat yang digerebek itu yakni di wilayah Tanjung Priok, Jakarta Utara, dan Cakung, Jakarta Timur.

Para pelaku biasa menggunakan modus dengan mengisi kembali botol-botol miras kosong dengan cairan ramuan para pelaku. Botol-botol bekas yang biasa digunakan yakni Red Label, Smirnoff Triple Distilled Vodka, Chivas Regal, St Remy, Black Label, Bacardi Superior, Gordon London Dry Gin, Gold Label, Pepe Lopes Tequila, Jim Bean, dan Henessy. Cairan ramuan para pelaku yakni menggunakan alkohol 90 persen yang digunakan untuk industri dicampur dengan air putih, minuman bersoda, sirup, dan asen untuk penambah aroma.

Secara kasatmata, miras-miras palsu itu tidak berbeda dengan miras asli. Namun, ada hal-hal yang bisa dibedakan. "Secara kasatmata memang tidak terlihat, warnanya sudah dibuat semirip mungkin, aromanya juga ditambah dengan asen. Tapi yang namanya palsu pasti ada saja yang beda," ungkap Kasat Obat dan Bahan Berbahaya, Ajun Komisaris Besar Gembong Yudhi, Kamis (5/1/2012) di Mapolda Metro Jaya.

Dia mengatakan, untuk membedakan miras asli dengan palsu, warga bisa melihat dengan teliti kemasan botol. "Miras palsu pasti memakai tutupan plastik di bagian ujung botolnya. Ini digunakan untuk menutupi lempengan tutup botol yang sudah terbuka sebelumnya," kata Gembong.

Pada miras asli, begitu plastik dibuka, tutup botol masih melekat kencang. "Ada bunyi krek kalau yang asli. Kalau yang palsu itu sudah dol, tidak ada bunyi krek," ucap Gembong.

Selain itu, warga juga bisa melihat tingkat kejernihan cairan di dalam botol. Pada miras palsu biasanya tidak terlalu jernih karena sudah dicampur macam-macam larutan. "Biasanya ada kotorannya, tidak bersih seperti asli," kata Gembong.

Jika dibandingkan dengan merek-merek botol lain, warna miras palsu akan selalu sama. Mereka menggunakan cairan yang sama untuk semua jenis miras yang dipalsukan. Botol miras palsu juga tidak bersih. Ada beberapa bagian yang terkelupas atau bahkan ada cap nama pengunjung di badan botolnya.

"Masyarakat juga diminta berhati-hati karena miras ini dijual sangat murah. Aslinya di atas Rp 750.000 dijual Rp 45.000-Rp 100.000 per botol. Kalau menemukan seperti ini, warga wajib curiga dan lapor polisi," ujarnya.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau