Kontras: Kekerasan di Bima Sistematis

Kompas.com - 05/01/2012, 15:01 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Koordinator Kontras Hariz Azhar mengatakan, berdasarkan hasil investigasi, kekerasan yang dilakukan kepolisian saat membubarkan paksa aksi unjuk rasa di Pelabuhan Sape, Nusa Tenggara Barat, pada 24 Desember 2011 pagi, dilakukan secara sistematis.

Hal itu dikatakan Hariz ketika mengadukan peristiwa di Pelabuhan Sape ke Komisi III Dewan Perwakilan Rakyat, Kamis ( 5/1/2012 ). Hariz diterima oleh enam anggota Komisi III. Hariz menjelaskan, ketika subuh sebelum pembubaran, kepolisian telah meminta warga yang tidak ikut berdemo untuk meninggalkan kampung atau tidak keluar rumah.

Fakta lain, kata Hariz, kepolisian mengerahkan antara 500-700 personel dari berbagai satuan, yakni Sabara, Brimob, PHH, Dalmas, reskrim, dan intel. Pasukan itu dipimpin Kepala Polres Bima Ajun Komisaris Besar Kumpul KS. Jika dilihat dari jumlah itu, ucapnya, tidak mungkin seluruhnya anggota Polresta Bima. "Kalau kapolresta memobilisasi sejumlah itu, saya pikir juru ketik mesti ikut juga karena orang-orang di polresta tidak sebanyak itu," ucap Hariz.

Sebelum peristiwa, tambah Hariz, kepolisian juga sudah menyiapkan sekitar 15 ambulans di lokasi. Padahal, katanya, di wilayah Sape tidak ada ambulans sebanyak itu. Tak hanya itu, kepolisian juga menyiagakan penembak jitu di dekat pelabuhan. "Bahkan, ada saksi melihat Wakapolda (Kombes Martono) hadir saat penyerangan. Dia pakai pakaian bebas dan berdiri di perempatan jalan masuk ke Pelabuhan Sape," ujar dia.

Hariz menambahkan, tidak ada warga yang melakukan perlawanan ketika ratusan polisi masuk ke dalam pelabuhan. Meski demikian, polisi tetap membubarkan paksa unjuk rasa dengan menembaki warga memakai peluru karet, timah, hingga tajam. "Penembakan dilakukan jarak dekat, kira-kira 10 sampai 15 meter. Saat itu warga tak pegang senjata. Pascapenembakan, banyak warga yang ditangkap diiringi pemukulan dan penyiksaan. Itu termasuk remaja, anak, dan ibu-ibu. Ada beberapa anak muda ditangkap baru ditembak," papar dia.

"Itu semua indikasi bagaimana kekerasan itu dilakukan secara sistematis. Kesimpulannya patut diduga terjadi pelanggaran HAM berat di sana. Peristiwanya cukup singkat satu jam, tapi eksesnya sangat luas," kata Hariz.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau