Kunjungan politik

Inggris Dukung Perubahan di Myanmar

Kompas.com - 05/01/2012, 17:06 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Untuk pertama kalinya dalam waktu lebih dari setengah abad, Menteri Luar Negeri Inggris kembali berkunjung ke Myanmar (Burma menurut sebutan Inggris).

Menlu Inggris, William Hague, berkunjung ke negara tersebut, 5-6 Januari ini, untuk bertemu para pemimpin politik, termasuk Presiden Thein Sein, aktivis prodemokrasi Aung San Suu Kyi, dan perwakilan etnis minoritas.

"Saya mengunjungi negara ini untuk mendorong pemerintah Burma, agar terus melanjutkan langkah mereka menuju reformasi, serta menentukan hal-hal yang bisa kami lakukan untuk mendukung proses ini," tutur Hague dalam siaran pers yang diedarkan Kedutaan Besar Inggris di Jakarta, Kamis (5/1/2012).

Menurut Hague, ia memutuskan mengunjungi Myanmar, karena didorong oleh sikap perubahan yang diambil pemerintah Myanmar akhir-akhir ini.

Ia menyebut beberapa langkah perubahan yang disambut baik oleh Inggris, seperti pembebasan para tahanan politik, dialog antara pemerintah dengan Aung San Suu Kyi, kemajuan dalam kebebasan pers, dan perubahan legislasi yang memperbolehkan partai Suu Kyi, Liga Nasional untuk Demokrasi (NLD), kembali mengikuti pemilu.

"Kami menyambut baik reformasi ini, dan mendorong pemerintah Burma untuk terus meningkatkan usahanya," ujar Hague.

Hague mengharapkan tindak lanjut yang akan berdampak pada penghargaan hak asasi manusia dan kebebasan politik yang berkelanjutan.

"Hal-hal terpenting yang kami harap akan terjadi, adalah pembebasan para tahanan politik lainnya, penyelenggaraan pemilu yang bebas dan adil, akses bantuan kemanusiaan di kawasan konflik, dan langkah yang kredibel menuju rekonsiliasi nasional," papar Menlu Inggris.

Inggris adalah bekas penjajah Myanmar sejak abad ke-19 hingga tahun 1948, dan sampai saat ini masih terus menyebut Myanmar dengan nama lamanya, yakni Burma, dan bekas ibu kotanya, Yangon, dengan Rangoon.

Hingga saat ini, Inggris masih menjadi negara donor terbesar bagi Myanmar, menyumbangkan dana sebesar 185 juta poundsterling (sekitar Rp 2,6 triliun) dalam tiga tahun terakhir. Namun dana tersebut tidak disalurkan melalui pemerintah Myanmar.

Kunjungan Hague akan dimulai di ibu kota Naypyidaw, tempat ia akan bertemu Presiden Thein Sein dan para pejabat pemerintahan. Ia kemudian akan mengunjungi Yangon untuk bertemu Aung San Suu Kyi, para pemimpin kelompok etnis minoritas, dan para mantan tahanan politik.

Langkah Hague ini menyusul langkah Menlu AS Hillary Clinton, yang sudah lebih dulu mengunjungi Myanmar akhir tahun lalu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau