Risiko Salah Pakai "Bra"

Kompas.com - 07/01/2012, 19:05 WIB

KOMPAS.com — Payudara perempuan terdiri dari jaringan lemak dan kelenjar yang tak memiliki tulang, dengan tulang belakang menjadi penopangnya. Jika Anda tak memilih penopang payudara dengan tepat, dalam hal ini bra, beban tulang belakang Anda bertambah berat. Tubuh pun membungkuk dan postur menjadi tak proporsional.

Dokter chiropractic (spesialis tulang belakang dan saraf), dr Magieline Rosalina dari Citralife, menjelaskan cara sederhana untuk mengenali postur Anda tak proporsional.
Perhatikan bahu kanan dan kiri Anda saat berdiri. Jika tak seimbang, satu lebih tinggi dari yang lainnya, artinya postur tubuh Anda asimetris atau tidak proporsional. Pengecekan juga bisa dilakukan melalui telinga. Coba berdiri tanpa sepatu, minta bantuan orang lain mengamati Anda, jika telinga kanan lebih pendek dari telinga kiri, atau sebaliknya, ini juga petanda lainnya. Postur asimetris ini salah satunya juga dipengaruhi faktor penopang payudara yang tak tepat.

"Payudara yang tak ditopang dengan baik akan menambah beban kerja tulang belakang, yang berfungsi untuk menopang seluruh tubuh. Apalagi untuk perempuan berbadan besar atau berpayudara besar. Semakin besar payudara beban tulang belakang juga bertambah besar," jelas perempuan yang akrab disapa dr Magie ini kepada Kompas Female di sela acara Right Support Weekend by Sorella di Gandaria City, Sabtu (7/1/2012).

Kebiasaan salah pakai bra

Dr Magie menjelaskan, kebiasaan dan persepsi perempuan yang keliru terkait bra menimbulkan sejumlah risiko. Misalnya, merasa tak perlu memakai bra saat di rumah, padahal tingkat intensitas aktivitasnya tergolong tinggi, misalnya melakukan pekerjaan rumah tangga. Lalu memakai bra yang salah, tak sesuai ukuran, dan membiarkannya meski sering kali merasa tak nyaman.

"Ibu rumah tangga yang sehari-hari di rumah juga perlu pakai bra yang tepat karena aktivitasnya yang berintensitas tinggi. Dalam melakukan aktivitas harian, payudara perlu penopang yang tepat. Kalau tidak, postur menjadi asimetris atau tidak proporsional karena terjadi perubahan kelengkungan pada tulang belakang akibat menggunakan bra sebagai penopang payudara yang tak tepat ini dibiarkan terus-menerus," jelasnya.

Risiko jangka panjang

Pemakaian bra yang tak tepat, jika terus-menerus dibiarkan, menimbulkan risiko ringan hingga jangka panjang. Karena payudara tak ditopang dengan baik, lama-kelamaan akan terjadi gangguan otot leher belakang, leher bawah, dan pinggang atas.

Risiko ini muncul akibat perubahan kelengkungan pada tulang belakang sebagai penopang payudara. "Jika kelengkungan tak normal, tubuh membungkuk, saraf yang terdapat di antara tulang belakang ini akan terjepit karena lubang saraf mengecil akibat tulang belakang yang melengkung tadi," jelas dr Magie.

Jangan heran, jika Anda kerap kali merasakan sakit kepala, kesemutan di tangan, nyeri di tangan dan punggung, atau bahkan sering kali merasa seperti masuk angin yang terjadi berulang kali. Jika semua gejala ini juga dibarengi dengan postur yang semakin membungkuk, kelengkungan tulang belakang yang tak normal, bisa jadi, penyebabnya karena Anda memakai ukuran bra yang salah.

Dr Magie mengakui, sejumlah masalah pada tulang belakang yang kerap dialami pasien perempuannya ada kaitannya dengan pemakaian bra yang salah. "Memang, gangguan pada tulang belakang tak lantas berkaitan langsung dengan pemakaian bra. Tim medis harus memperhatikan dan memeriksa lebih menyeluruh. Jika terapi yang dilakukan tak ada perubahan, bisa jadi masalahnya terkait penopang payudara yang tak baik. Setelah memeriksa secara menyeluruh, saya sering kali menyarankan untuk memeriksa kembali, apakah bra yang digunakan sudah tepat sesuai ukuran," akunya.

Dr Magie mengatakan, kesadaran untuk menggunakan bra dengan baik dan benar memang masih rendah. Hal ini didapatinya dari ketidakpahaman pasiennya yang cenderung tak mengetahui adanya hubungan gangguan tulang belakang dengan pemakaian bra yang keliru. Gangguan tulang belakang yang diakibatkan oleh penopang payudara tak sesuai.

Kenali gejala awal

Untuk menghindari dampak jangka panjang dari pemakaian penopang payudara (bra) yang tak tepat, Anda bisa mulai mengenali gejala awal. Rasa pegal yang terus berulang, sakit di bagian belakang tubuh yang tak juga membaik meski Anda sudah memijatnya, menjadi tanda-tanda awalnya. Ketika keluhan seperti itu terus berulang, bisa jadi ada yang salah dengan tulang belakang bahkan saraf, bukan sekadar otot yang kaku saja, kata dr Magie.

"Orang Indonesia cenderung kuratif, mengobati setelah sakit, bukan preventif," akunya. Ia menambahkan, jika muncul keluhan berulang di tubuh bagian belakang, sebenarnya bisa dilakukan screening. Dengan begitu, berbagai penyakit dapat diketahui lebih dini dan dapat dilakukan tindakan pencegahan atau setidaknya menghindari risiko yang lebih fatal.

Sebab, boleh jadi penyebab sakit punggung dan berbagai masalah tulang belakang lainnya merupakan dampak dari kebiasaan yang salah saat memilih dan memakai bra.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau