Banjir, Akses Jalan Utama di 9 Desa Lumpuh

Kompas.com - 08/01/2012, 23:33 WIB

LAHAT, KOMPAS.com - Banjir luapan Sungai Milang di Kecamatan Merapi Barat, Kabupaten Lahat, Sumatera Selatan, mengakibatkan jalan akses utama pada sembilan desa di Kecamatan Merapi Selatan lumpuh, karena terendam air setinggi sekitar satu meter dan sepanjang 500 meter.

Hujan deras yang mengguyur wilayah Lahat, Sabtu, sejak pukul 05.00 WIB mengakibatkan sejumlah sungai meluap dan membuat warga di Kecamatan Merapi Barat terpaksa menghentikan aktivitas mereka, setelah jalan tergenang air setinggi satu meter.

Bahkan, warga yang menggelar hajatan pernikahan harus kecewa, karena tamu tidak bisa hadir menyusul jalur jalan ke tempat mereka terputus akibat banjir.

"Sungai Milang yang melintas di wilayah Kecamatan Merapi Barat meluap sejak pukul 05.00 WIB, membuat debit air dari arah di Bukit Serelo tersebut naik, setelah diguyur hujan semalaman," kata Tomi, warga setempat, Minggu (8/1/2012).

Ia menyatakan, banjir kiriman berasal dari kawasan Bukit Barisan dan kawasan Bukit Jempol, karena hutan daerah itu sudah banyak rusak setelah adanya peningkatan penambangan.

"Luapan air sungai menggenangi perkebunan dan permukiman yang berada di sisi daerah tersebut. Bahkan banjir memutus jalur di Kecamatan Merapi Barat," ujar dia lagi.

Air terus meninggi dan menggenangi badan jalan di Desa Ulak Pandan, termasuk merendam badan jalan sepanjang 400 meter, dengan ketinggian lebih dari 1 meter. Padahal jalan tersebut, merupakan satu-satunya akses bagi warga di Kecamatan Merapi Selatan untuk menuju Kota Lahat.

"Kami kesulitan untuk mengangkut hasil pertanian dan melakukan aktivitas sehari-hari, terutama yang bekerja di luar kecamatan, akibat jalan terendam air," kata dia.

Banyak warga yang terjebak dan terpaksa memutar arah, karena jalan sudah sudah tertutup air, sedangkan dua sisi arah jalan sudah dipenuhi kendaraaan baik mobil pribadi, angkutan desa atau pun sepeda motor. "Kami harus menunggu air surut, agar bisa melanjutkan perjalanan kembali untuk beraktivitas seperti biasa," ujar dia.

Camat Merapi Selatan, M Ishak mengatakan, warga yang akan bepergian ke Kota Lahat memang harus melewati Kecamatan Merapi Barat yang jalannya terendam banjir itu.

"Ruas jalan yang terendam merupakan akses satu-satunya menuju ke luar kecamatan termasuk ke Kota Lahat, karena tidak ada yang lain lagi. Kondisi inilah yang mengakibatkan akses sembilan desa di Kecamatan Merapi Barat lumpuh total," ujar dia.

Ia menyebutkan, di Kecamatan Merapi Selatan terdapat sembilan desa, dengan jumlah penduduk 7.535 jiwa. "Sebagian besar warga itu bekerja sebagai petani yang menjual hasilnya ke luar kecamatan, kondisi ini tentunya menimbulkan efek luar biasa setelah jalan putus akibat banjir," ujarnya.

Banjir ini, kata Ishak, menimbulkan dampak banyak warga yang mengalami kerugian, karena tidak bisa mengangkut hasil bumi dan hasil pertanian berupa sayur mayur dan buah-buahan keluar desa. "Arus transportasi dari dan menuju Kecamatan Merapi Selatan lumpuh total akibat banjir ini," ujar Ishak.

Akibat banjir ini, ada juga kebun kopi, durian dan sawah milik warga setempat yang ikut terendam, namun dilaporkan tidak ada korban jiwa.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau