Musim tanam

Pupuk Urea Dijual di Atas Harga Eceran Tertinggi

Kompas.com - 09/01/2012, 02:34 WIB

Semarang, Kompas - Sejumlah petani di wilayah Demak, Grobogan, dan Pati, Jawa Tengah, melaporkan adanya penjualan pupuk urea bersubsidi warna putih. Mestinya jenis ini sudah tidak beredar karena sudah diganti urea warna merah muda (pink). Petani juga mengeluh adanya penyalur yang menjual pupuk urea di atas harga eceran tertinggi (Rp 1.800 per kilogram) menjadi Rp 2.200 per kg.

Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Grobogan, Edi Purwanto, Minggu (8/1), mengatakan, musim tanam rendeng yang hampir serentak mendorong petani mencari pupuk urea bersubsidi. Banyak pula petani belum paham kalau harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea sudah naik Rp 200 per kg, dari Rp 1.600 per kg menjadi Rp 1.800 per kg.

”Pupuk urea bersubsidi kini diberi warna pink, tujuannya memudahkan pengawasan penyaluran pupuk di pasaran. Sosialisasi pupuk warna pink juga belum merata. Jadi, kemungkinan pupuk urea putih stoknya di pedagang masih cukup banyak,” papar Edi Purwanto.

Petani di Pati melaporkan, banyak penyalur atau pedagang memanfaatkan kondisi tingginya kebutuhan terhadap pupuk urea. Di wilayah Tayu, Kabupaten Pati, misalnya, petani harus menebus pupuk Rp 2.200 per kilogram.

Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo menyatakan, kesulitan petani di sejumlah daerah pantura bagian timur Jateng itu akibat kekisruhan kebijakan pemerintah yang terburu-buru. Bahkan, pihaknya sudah melaporkan soal diselewengkannya pupuk urea bersubsidi ini kepada pihak berwajib dan PT Pusri.

Di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, ditemukan praktik penyaluran pupuk bersubsidi warna merah muda yang dijual pengecer ke kecamatan lain. Pihak kepolisian kini memeriksa dua pedagang penyalur dengan barang bukti 37 karung pupuk urea merah muda.

”Pengawasan pupuk bersubsidi ini perlu dilakukan lebih ketat lagi. Pihak distributor harus benar-benar memastikan kalau pupuk urea warna putih sudah tidak ada lagi di pasaran. Hal ini guna mencegah permainan distributor-penyalur yang merugikan petani karena urea putih dijual dengan harga tinggi,” papar Firman Subagyo. (WHO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau