Semarang, Kompas -
Pengurus Himpunan Kerukunan Tani Indonesia Kabupaten Grobogan, Edi Purwanto, Minggu (8/1), mengatakan, musim tanam rendeng yang hampir serentak mendorong petani mencari pupuk urea bersubsidi. Banyak pula petani belum paham kalau harga eceran tertinggi (HET) pupuk urea sudah naik Rp 200 per kg, dari Rp 1.600 per kg menjadi Rp 1.800 per kg.
”Pupuk urea bersubsidi kini diberi warna pink, tujuannya memudahkan pengawasan penyaluran pupuk di pasaran. Sosialisasi pupuk warna pink juga belum merata. Jadi, kemungkinan pupuk urea putih stoknya di pedagang masih cukup banyak,” papar Edi Purwanto.
Petani di Pati melaporkan, banyak penyalur atau pedagang memanfaatkan kondisi tingginya kebutuhan terhadap pupuk urea. Di wilayah Tayu, Kabupaten Pati, misalnya, petani harus menebus pupuk Rp 2.200 per kilogram.
Wakil Ketua Komisi IV DPR Firman Subagyo menyatakan, kesulitan petani di sejumlah daerah pantura bagian timur Jateng itu akibat kekisruhan kebijakan pemerintah yang terburu-buru. Bahkan, pihaknya sudah melaporkan soal diselewengkannya pupuk urea bersubsidi ini kepada pihak berwajib dan PT Pusri.
Di Kecamatan Tayu, Kabupaten Pati, ditemukan praktik penyaluran pupuk bersubsidi warna merah muda yang dijual pengecer ke kecamatan lain. Pihak kepolisian kini memeriksa dua pedagang penyalur dengan barang bukti 37 karung pupuk urea merah muda.
”Pengawasan pupuk bersubsidi ini perlu dilakukan lebih ketat lagi. Pihak distributor harus benar-benar memastikan kalau pupuk urea warna putih sudah tidak ada lagi di pasaran. Hal ini guna mencegah permainan distributor-penyalur yang merugikan petani karena urea putih dijual dengan harga tinggi,” papar Firman Subagyo.