Warga tanah merah

Tak Ber-KTP, kalau Pemilu buat Rebutan

Kompas.com - 09/01/2012, 16:41 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Sebanyak 12.000 warga Tanah Merah, Kecamatan Plumpang, Jakarta Utara, membentuk RT/RW bayangan yang mereka sebut sebagai RT/RW Mandiri.

Menurut Ketua Forum Komunikasi Tanah Merah Bersatu, Muhammad Yudha (31), yang ditemui di sela aksi demonstrasi di depan Gedung Kementerian Dalam Negeri, langkah tersebut dilakukan untuk melindungi warga. Sebab, sampai siang ini, ke-12.000 warga dianggap bukan warga DKI.

"Mereka tidak memiliki RT/RW, tidak memiliki akte kelahiran buat anak-anak mereka meski lahir di Tanah Merah. Mereka juga tidak memiliki KTP DKI sesuai domisili mereka disana," tegas Yudha.

Hal ini membuat warga kesulitan menyekolahkan anak-anak mereka. Warga pun sukar mendapatkan pekerjaan dan sering terancam keselamatannya. "Oleh karena itu kami membentuk RT/RW mandiri untuk mendata dan mengantisipasi hal buruk yang dihadapi warga," ucap Yudha.

Ia, mewakili warga Tanah Merah, menuntut pemerintah provinsi segera meresmikan RT RW mandiri ini menjadi RT RW resmi. Dengan demikian, warga bisa mengurus KTP, akte kelahiran, dan keperluan administrasi kependudukan lainnya.

Menurut Yudha, RT/RW mandiri tersebut terdiri dari lima RW, dan 57 RT di wilayah Kelurahan Rawa Badak, Tugu Selatan, dan Kelapa Gading Barat, Jakarta Utara. Dia mengatakan, sebagian warga pendatang ini mulai tinggal di Tanah Merah sejak pertengahan 1980-an.

Ketika ditanya bagaimana proses pertambahan warga di sana, Yudha menolak menjelaskan. "Tanya saja sama pemerintah DKI. Kan mereka yang bertanggungjawab memonitor," tandasnya.

Ketika ditanya apakah mereka pendatang, ia menjawab, "Mereka warganegara Indonesia yang berhak tinggal di mana saja di seluruh Tanah Air".

KTP DKI Nembak

Ketika ditanya lagi apakah selama ini warga tidak memiliki KTP daerah misalnya? Yudha menjawab, "Mereka punya KTP daerah". Ia mengakui, sebagian warga telah memiliki KTP dengan cara, "nembak".

Biaya "Nembak" KTP rata-rata, Rp 400.000. "Itu mereka lakukan karena dipaksa oleh sistem agar mereka mendapat fasilitas pendidikan, kesehatan, dan peluang kerja yang seharusnya memang hak mereka," ujar Yudha.

Ia heran, mengapa pemerintah tidak peduli terhadap hak warga mendapatkan KTP sementara warga asing, seperti para pemain sepak bola, dengan mudah mendapat fasilitas yang sama. "Apa mereka harus berbondong-bondong minta suaka politik ke Malaysia? Itu naif. Mereka punya rasa nasionalisme!" tegas Yudha.

Ia menambahkan, saat musim Pilkada, Pilpres atau Pemilu, warga menjadi rebutan partai politik (Parpol) dan birokrat yang bersekongkol dengan Parpol. "Setiap menjelang pemilihan, seluruh warga didata. TPS (tempat pemungutan suara) TPS didirikan. Jumlahnya sampai 36 TPS. Usai pemilihan, warga dianggap warga uka-uka, orang liar," ucapnya.

Depo Pertamina

Asep, Ketua RT 01/RW 10 Mandiri, membenarkan apa yang disampaikan Yudha. Ia mengakui, sebagian warga adalah warga pendatang yang bekerja sebagai buruh bangunan, pemulung, pengojek sepeda motor, pedagang asongan, dan penjaja makanan. "Mereka awalnya ngontrak di Tanah Merah," ungkapnya.

Asep datang tahun 1983. Karena sulitnya pekerjaan di desanya, ia secara bertahap mengajak saudara atau tetangganya tinggal di Tanah Merah dan bekerja di Jakarta. Asep sekarang menganggur. Meski demikian, bila malam ia jadi sopir tembak ojek sepeda motor. "Anak saya dua, istri saya dagang nasi uduk," ucapnya.

Adik iparnya, Kasmin (42) asal Subang, Jawa Barat, juga tinggal di Tanah Merah. Kasmin punya anak tujuh orang. Ia bekerja sebagai kernet Metromini. Pendapatannya sehari setelah bekerja dari jam 05.00-24.00, cuma Rp 50.000. Ia dibantu salah seorang anaknya memikul beban ekonomi keluarga dengan menjadi kernet juga.

"Umurnya baru 13 tahun. Ya harus gimana lagi buat bertahan selain dia harus kerja," kata Kasmin.

Karena anak-anaknya yang lahir di Tanah Merah tak mendapat akte kelahiran, ia kesulitan menyekolahkan anak-anaknya. Beruntung ada pengurus RT/RW Mandiri yang bisa meyakinkan pengelola sekolah agar anak-anak Kasmin bisa sekolah. "Satu anak saya sekarang sekolah di SD Negeri 06, dan seorang lainnya di SD Negeri 10 Petang, Rawa Badak Selatan," jelas Kasmin.

Ia mengatakan, para pendatang awalnya mendapat pekerjaan karena kegiatan armada sopir Depo Pertamina, Plumpang. Kegiatan ini membuat kos-kosan sopir, dan warung-warung makan berkembang. Warga pendatang lain pun menyusul berdatangan dan tinggal di sana.

"Sekarang sebagian armada truk Pertamina pindah ke Krawang, Jawa Barat. Warga banyak kehilangan pekerjaan dan beralih usaha seadanya. Sebagian nganggur," ungkap Kasmin.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau