Harga pupuk

Petani Mengeluh karena Terpaksa Membeli di Atas HET

Kompas.com - 10/01/2012, 03:09 WIB

Slawi, Kompas - Petani di sejumlah daerah terpaksa membeli pupuk urea di atas harga eceran tertinggi yang ditetapkan pemerintah saat musim tanam sekarang ini. Keluhan petani muncul, antara lain, dari daerah Kabupaten Tegal dan Kabupaten Grobogan di Provinsi Jawa Tengah serta dari Kabupaten Gowa, Provinsi Sulawesi Selatan.

Petani di Kabupaten Tegal mengaku harus membeli pupuk urea dengan harga Rp 1.890 hingga Rp 3.000 per kilogram (kg). Padahal, harga eceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah hanya Rp 1.800 per kg.

Raliyan (55), petani di Desa Kepandean, Kecamatan Dukuhturi, mengaku membeli pupuk urea dari salah satu pengecer Rp 94.500 per zak (isi 50 kg) atau setara Rp 1.890 per kg. Namun dalam bentuk eceran, harga urea jauh lebih mahal, yaitu Rp 3.000 per kg. ”Harga Rp 3.000 itu juga belum sampai di tempat. Petani mengangkutnya sendiri,” kata Raliyan.

Selain terbebani tingginya harga pupuk, pada musim tanam pertama kali ini petani juga harus berhadapan dengan hama keong mas, tikus, dan belalang sangit.

Di Kecamatan Gubug, Kabupaten Grobogan, petani mengeluhkan kenaikan harga pupuk urea bersubsidi sebesar 12,5 persen sejak Desember 2011, atau naik hingga Rp 1.800 per kg.

”Harapan petani ada kenaikan harga gabah, ternyata yang naik justru harga urea,” ujar Nurkholis, petani di Desa Mlilir, Kecamatan Gubug.

Daeng Bunga (35), petani di Kelurahan Paccinongang, Kecamatan Somba Opu, Kabupaten Gowa, mengeluhkan hama keong mas yang merusak tanaman barunya. ”Pagi saya tanam, sore saya periksa sudah muncul keong mas. Kami juga sulit cari urea,” ujar Daeng. (SIN/WIE/WHO)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau