KESIAPAN NISHIKORI...

Kompas.com - 10/01/2012, 03:23 WIB

Persaingan yang sangat berat di kalangan para petenis putra berhasil ditembus Kei Nishikori pada 2011. Petenis Jepang berusia 21 tahun ini mencatat hasil mengesankan sepanjang tahun lalu dengan mencapai final turnamen ATP di Houston, Amerika Serikat, dan Basel, Swiss. Dia juga menjadi salah satu petenis yang mampu mengalahkan petenis nomor satu dunia, Novak Djokovic, dan jajaran 10 besar lainnya.

Nishikori pun mencatatkan dirinya sebagai petenis Jepang yang mampu mencapai peringkat dunia tertinggi, yaitu peringkat ke-25 pada saat ini.

Petenis jajaran 10 besar lain yang dia kalahkan pada musim 2011 adalah Jo-Wilfried Tsonga dan Tomas Berdych.

Menyongsong musim kompetisi 2012, Nishikori pun menyiapkan dirinya dengan sangat serius di IMG Bollettieri Tennis Academy, Bradenton, Florida, AS.

Dalam bincang-bincang santainya dengan pengelola situs resmi ATP, Nishikori mengungkapkan, fokus utama pelatihannya kali ini adalah memperkuat kondisi fisiknya, membangun otot-ototnya, dan juga ketahanan serta ketajaman matanya. Hal itu dilakukannya dengan penuh kesadaran karena musim turnamen ATP sangat panjang dan padat sehingga fisik yang kuat sangat diperlukan untuk menghindari cedera.

”Saya melakukan banyak latihan inti dan keseimbangan. Saya juga banyak melakukan latihan beban berat, tetapi saya banyak memusatkan pada keseimbangan,” ungkapnya.

Nishikori dengan terus terang mengatakan, ia bukan orang yang dikaruniai fisik tinggi dan besar, padahal permainan tenis kini semakin banyak mengandalkan kekuatan dan kecepatan.

”Saya bukan orang yang berbadan besar sehingga saya harus bisa mengembalikan bola sebanyak mungkin untuk meraih angka. Olah karena itu, memiliki ketahanan fisik menjadi sangat penting. Inilah yang juga terus saya latih selama masa liburan,” ujar Nishikori.

Petenis Jepang itu menegaskan, ia membutuhkan seluruh badannya menjadi lebih kuat. ”Tetapi saya juga harus mempunyai keseimbangan yang lebih baik karena saya adalah pemain yang sering harus berlari dari sisi ke sisi,” katanya.

Nishikori sengaja memilih akademi tenis yang sudah sangat kesohor itu karena di tempat tersebut dia bisa sepenuhnya berkonsentrasi pada tenis. ”Juga ada banyak petenis terkenal datang ke sini yang memungkinkan saya berlatih dengan sejumlah orang. Juga di sini ada banyak pelatih hebat. Menyenangkan sekali bisa bermain tenis, berlatih, dan tidur. Itu bukan situasi yang sering bisa saya dapatkan,” katanya.

Nishikori memang berkaca dari para petenis top dunia lainnya. Dia menilai Roger Federer adalah petenis yang penglihatannya paling kuat, sedangkan Rafael Nadal adalah petenis yang paling cepat dan ketahanan ototnya paling baik.

Bagaimana dengan Novak Djokovic? Nishikori menilai Djokovic adalah petenis yang paling fleksibel. Sementara gerakan kaki yang terbaik dimiliki David Ferrer. Untuk soal keseimbangan, dalam pandangan petenis Jepang itu, Gael Monfils memiliki keseimbangan terbaik.

Menggabungkan semua kemampuan terbaik itu menjadi satu jelas bukanlah perkara mudah. Nishikori pun hampir pasti tidak akan bisa melakukannya. Meski demikian, dengan adanya para petenis yang bisa menjadi contoh itu, tidak terlalu sulit bagi Nishikori untuk berlatih dan mempelajari gerakan-gerakan mereka.

Cepat meroket

Nishikori, yang terjun ke tenis profesional pada 2007 atau pada usia 18 tahun, terbilang petenis yang cepat meroket. Ketika banyak petenis lainnya kesulitan mendongkrak peringkat dunianya lebih tinggi, Nishikori bisa langsung mendapatkan tempat di turnamen-turnamen utama ATP karena prestasinya yang mengagumkan.

Dia meraih kemenangan pertamanya di babak utama turnamen ATP, dari Alejandro Falla, di turnamen Indianapolis, tahun 2007. Dia lalu melanjutkan debutnya dengan mengalahkan Michael Berrer dalam tiga set. Langkahnya baru terhenti di perempat final oleh petenis Rusia, Dmitry Tursunov. Meski terhenti di perempat final, Nishikori mencatatkan rekor baru sebagai petenis termuda yang bisa mencapai perempat final turnamen di Indianapolis itu setelah Boris Becker yang lolos hingga semifinal pada 1985.

Tahun berikutnya, Nishikori kembali mengukirkan namanya dengan mampu lolos ke semifinal turnamen Miami Challenger. Dengan berbekal peringkat ke-244 dunia, dia lalu mengikuti babak kualifikasi untuk turnamen Delray Beach. Dia bisa lolos ke babak utama dengan mengalahkan Nicolas Todero dan Alex Bogomolov Jr. Di turnamen ini, Nishikori benar-benar tak terhentikan dengan menyikat Sam Querrey di semifinal dan kemudian mengalahkan James Blake dalam tiga di set di final. Kemenangan itu menjadikannya petenis Jepang pertama yang berhasil memenangi sebuah turnamen ATP dalam 16 tahun terakhir.

Dia tampil pertama kali di turnamen berkelas grand slam di Wimbledon pada 2008. Sayangnya ia langsung tersingkir di putaran pertama dari petenis Perancis, Marc Gicquel, dengan terpaksa mundur di set kedua gara-gara otot perutnya keram.

Petenis kelahiran Matsue, Shimane, Jepang, 29 Desember 1989, ini juga tidak terlepas dari beberapa kali mengalami cedera sehingga terpaksa beristirahat dan kehilangan kesempatan bermain. Agaknya musuh utama itulah yang kini coba diatasi Nishikori dengan semakin membangun otot-ototnya, serta daya tahan tubuhnya secara keseluruhan.

Sayangnya ”uji coba” pertama Nishikori pada musim 2012 ini berakhir dengan hasil belum memuaskan. Pada putaran kedua turnamen di Brisbane, Australia, awal Januari, ini, Nishikori dikalahkan petenis Siprus, Marcos Baghdatis, 6-3, 6-4.

Meski demikian, apa yang disampaikan dan dipersiapkan Nishikori untuk menghadapi musim 2012 semakin menegaskan karakter permainan tenis pada saat ini, yang tidak lagi bertumpu pada kemampuan menempatkan bola ke tempat-tempat yang sulit dijangkau lawan.

Hadirnya para petenis dengan postur tubuh yang lebih besar dan pukulan yang sangat kuat telah mengubah karakteristik tenis dibandingkan dengan satu dekade lalu.

Oleh karena itu, Nishikori pun berpesan kepada para petenis muda untuk banyak melatih otot paha dan pangkal pahanya, baik depan maupun belakang. Otot-otot itu sangat penting ketika para petenis harus mengubah arah gerakan secara tiba-tiba. ”Jadi para pemain jangan melupakan wilayah itu,” ujarnya. (OKI)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau