Kura-kura Raksasa yang Punah Muncul Kembali

Kompas.com - 10/01/2012, 12:39 WIB

GALAPAGOS, KOMPAS.com — Setelah 150 tahun dianggap punah, sejenis kura-kura raksasa Galapagos bakal kembali "hidup", demikian dilaporkan para ilmuwan, Senin (9/1/2012).

Para peneliti menemukan spesies yang hilang itu–yang disebut Elephantopus chelonoidis–dengan menganalisis genom spesies lain yang berkerabat dekat, Chelonoidis becki. Jenis kedua ini hidup di Pulau Isabela, pulau terbesar di Kepulauan Galapagos, Samudra Pasifik. Pulau ini terletak sekitar 322 kilometer dari Pulau Floreana, di mana Chelonoidis elephantopus terakhir terlihat sebelum menghilang, diduga karena perburuan oleh pemburu paus, sekitar 150 tahun yang lalu.

Kedua spesies kura-kura raksasa yang hidup di Kepulauan Galapagos itu memiliki cangkang yang bentuknya berbeda. Cangkang C elephantopus di Pulau Floreana berbentuk pelana, sementara kura-kura di pulau-pulau lainnya, termasuk C becki, memiliki cangkang berbentuk kubah. Kura-kura raksasa ini bisa mencapai bobot hampir 408 kilogram dan panjang hampir 1,8 meter.

Penemuan keturunan campuran

Pada tahun 2008 para peneliti menemukan bahwa beberapa kura-kura C becki memiliki cangkang berbentuk lebih mirip pelana daripada kubah. Mereka lalu meyakini bahwa ini adalah keturunan campuran (hibrida) dari perkawinan antara kedua spesies yang berbeda. Mereka kemudian mengambil sampel untuk analisis genetik dari 1.669 kura-kura besar dari pulau itu, atau sekitar 20 persen dari total populasi. Hasilnya, ditemukan beberapa potongan genom C. elephantopus  dalam populasi tersebut.

Menggunakan model komputer khusus, mereka menganalisis kapan gen ini masuk ke populasi. Yang jelas, pembauran gen itu terjadi ketika seekor C elephantopus kawin dengan C becki–dan ini adalah bukti tidak langsung bahwa pada saat itu masih ada kura-kura jenis C elephantopus yang hidup.

Mereka menemukan, 84 dari kura-kura itu memiliki indikator genetik bahwa salah satu induk mereka adalah C elephantopus, dan 30 di antaranya berumur kurang dari 15 tahun. Mengingat umur kura-kura bisa mencapai 100 tahun, para peneliti mengatakan kemungkinan besar induk yang berjenis C elephantopus masih hidup.

"Ini adalah pertama kalinya spesies makhluk hidup ditemukan kembali dengan cara melacak jejak genetiknya yang tertinggal dalam genom keturunan campuran mereka," ujar peneliti Ryan Garrick dari Yale University, dan kini asisten profesor di University of Mississippi. "Temuan ini memberi napas kehidupan baru untuk usaha konservasi bagi hewan-hewan ini."

Berdasarkan perbedaan genetik di antara kura-kura blasteran itu, para peneliti memperkirakan bahwa setidaknya ada 38 ekor C elephantopus meninggalkan keturunan campuran di Kepulauan Galapagos, dan beberapa mungkin masih hidup.

Menghidupkan yang sudah punah

Jika para peneliti dapat menemukan populasi tersebut, mereka bisa menangkap beberapa untuk dijadikan induk dalam program penangkaran sehingga spesies tersebut "hidup" lagi. Dalam makalah yang diterbitkan 9 Januari 2012 di jurnal Current Biology, para peneliti bahkan menuliskan kemungkinan "membangkitkan" spesies itu dari potongan genetik yang ditemukan dalam kura-kuran jenis C becki.

"Jika kita bisa menemukan hewan-hewan ini, kita dapat mengembalikan mereka ke pulau asal mereka. Ini penting karena hewan-hewan itu adalah spesies kunci yang memainkan peran penting dalam mempertahankan integritas ekologis di sana," kata peneliti Gisella Caccone dari Yale University.

Dalam diskusi yang menarik, para peneliti masih bertanya-tanya bagaimana kura-kura raksasa bisa berpindah dari Pulau Floreana ke Isabela. Mereka menduga hewan-hewan itu mungkin dibawa ke Isabela sebagai makanan dan kemudian dibuang ke laut atau ditinggalkan di pantai.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau