Parlemen asia pasifik

Jadikan Semenanjung Korea Bebas Senjata Nuklir

Kompas.com - 11/01/2012, 02:28 WIB

Tokyo, Kompas - Korea Utara tidak menjadi anggota Forum Parlemen Asia Pasifik. Namun, pertemuan tahunan ke-20 forum tersebut yang sedang berlangsung di Tokyo, Jepang, tetap membahas negara yang baru menjalani suksesi kepemimpinan itu, terutama terkait stabilitas politik dan keamanan di Semenanjung Korea.

Jepang—melalui anggota delegasinya, Nobuo Kishi, Selasa (10/1)—menegaskan, Semenanjung Korea harus diperjuangkan bebas dari senjata nuklir. Korea Utara juga harus menghormati hak asasi manusia.

”Bersama lembaga lain seperti Perserikatan Bangsa-Bangsa, Parlemen Asia Pasifik harus melihat Semenanjung Korea, terutama terkait pengembangan senjata nuklir di Korea Utara,” kata Nobuo Kishi dalam pertemuan tahunan Forum Parlemen Asia Pasifik (Asia Pacific Parliamentary Forum/APPF), seperti dilaporkan wartawan Kompas M Hernowo dari Tokyo, Selasa (10/1).

Dalam forum yang dimulai Senin kemarin dan akan berlangsung selama empat hari ini, Jepang juga meminta dukungan terkait nasib 10 warganya yang diduga diculik Korea Utara.

Dalam forum itu, Jepang bahkan membagikan video dan selebaran yang menjelaskan latar belakang warganya yang menjadi korban penculikan.

Juru bicara Korea Selatan, Lee Jong-heuk, menuturkan, perlu adanya saluran diplomatik yang harus dipastikan untuk menjamin perdamaian dan stabilitas di Semenanjung Korea.

Penyatuan

Sementara itu, wakil dari Indonesia, Bokiratu Susanti, menegaskan, Korea Selatan dan Korea Utara harus memastikan tercapainya cita-cita penyatuan Korea seperti yang disepakati kedua negara dalam pernyataan bersama tahun 1972.

”Semua pihak juga harus mendukung denuklirisasi di Semenanjung Korea. Perlucutan senjata nuklir menjadi sesuatu yang harus dilakukan untuk menjamin keberlangsungan stabilitas politik di kawasan itu,” tambah Susanti.

Laode Ida, anggota delegasi Indonesia lainnya, menuturkan, kemerdekaan Palestina dan demokratisasi di Myanmar juga menjadi masalah politik dan keamanan yang perlu diperhatikan di Asia Pasifik.

Diperlukan pembangunan keamanan dan kerja sama regional yang lebih kuat untuk menyelesaikan persoalan tersebut.

”Kunci penyelesaian persoalan Palestina adalah pengakuan terhadap kemerdekaan dan kedaulatan negara itu,” kata Emma Yohanna, anggota delegasi dari Indonesia.

Indonesia, lanjut Yohanna, mendukung penuh keanggotaan Palestina di Perserikatan Bangsa-Bangsa dan menolak semua bentuk pendudukan serta intervensi militer oleh pihak asing di negara itu.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau