Katarak Dapat Kambuh Lagi Pascaoperasi

Kompas.com - 11/01/2012, 09:16 WIB

KOMPAS.com - Operasi merupakan satu-satunya jalan untuk menyembuhkan penyakit mata katarak. Namun yang menjadi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah setelah dioperasi katarak bisa kambuh lagi? Jawabannya adalah ya!

"Kemungkinan kambuh tetap ada meskipun kecil antara 5-10 persen," kata Dr Sanduk Ruit, pakar ophtalmology asal Nepal dalam acara media briefing, Selasa (10/1/2012), di Jakarta.

Akan tetapi, hal tersebut lanjut Ruit tidak perlu terlalu dicemaskan. Pasalnya, kekambuhan tidak akan terjadi apabila hasil operasi berjalan lancar dan sempurna. "Kebanyakan yang kambuh adalah mereka yang masih muda. Karena masih ada kemungkinan jaringan pada matanya berkembang," tambah dokter yang menjabat sebagai Direktur Medis di Institut Tilganga, Nepal tersebut .

Pada kasus-kasus tertentu, lanjut Ruit, lensa yang jernih dapat berubah menjadi keruh. Keruhnya kantung lensa inilah yang disebut sebagai katarak yang kambuh lagi atau disebut sebagai PCO (posterior capsular opacity). PCO ini dapat muncul pada beberapa bulan atau tahun setelah operasi.

Kabar baiknya, untuk mereka yang mengalami kekambuhan seperti ini, tidak perlu untuk melakukan operasi kembali. Cukup dengan tindakan laser dan lensa akan kembali jernih.

"Kita hanya perlu menggunakan mesin yang disebut YAG (yettrium aluminium garnet).  Dengan membuat lubang kecil tanpa operasi," jelasnya.

Ruit memaparkan bahwa ada 3 teknik yang umumnya digunakan untuk melakukan operasi mata katarak. Yang pertama yaitu teknik phcoemulsification. Ini adalah teknik paling modern dengan menggunakan mesin dimana dapat memecahkan katarak menggunakan laser setelah itu di sedot keluar. Teknik ini hasilnya cukup bagus tetapi kendalanya adalah memerlukan mesin yang mahal dan mikroskop yang sangat besar. Di beberapa negara maju sudah banyak yang menggunakan alat ini. Sedangkan di Indonesia, baru beberapa rumah sakit tertentu saja yang mempunyai alat ini.

Teknik kedua adalah Small Incision Cataract Surgery (SICS). Ini adalah salah satu teknik bedah katarak yang umum digunakan di negara berkembang. Teknik ini biasanya membuahkan hasil visual yang baik. Prosedurnya tidak memerlukan mesin yang besar dan mikroskop yang dipakai portable alias bisa dibawa kemana-mana. Harga lensanya sangat murah yakni seperlima dari harga lensa phco.

Sedangkan teknik yang terakhir adalah metode pembedakan dengan jahitan.  Teknik ini selain membutuhkan waktu operasi yang lama, proses penyembuhan pascaoperasi juga cenderung lebih lama.

Penyebab kebutaan nomor satu|

Di Indonesia, penyakit katarak saat ini masih menjadi penyebab kebutaan nomor satu. Umumnya katarak terjadi bersamaan dengan bertambah umur sehingga tidak dapat dicegah.

"Di Indonesia prevalesinya penderita katarak kurang lebih 1,5 persen. Jadi diperkirakan ada 3,5 juta orang yang menderita katarak," kata Dr. Bambang Sardjono, MPH selaku Direktur Bina Upaya Kesehatan Dasar, Kementerian Kesehatan.

Bambang mengatakan, setiap orang mempunyai kesempatan yang sama untuk menderita katarak. Akan tetapi, untuk mereka yang mempunyai keluarga dengan riwayat penyakit katarak, risikonya sedikit lebih besar. Ia juga menegaskan bahwa operasi menjadi satu-satunya jalan untuk seseorang bisa sembuh dari penyakit katarak. "Vitamin dan antioksidan tidak banyak pengaruhnya untuk menyembuhkan penyakit katarak," ucapnya.

Jika dilihat secara geografis, Indonesia sebenarnya beruntung karena terletak di garis khatulistiwa dan cukup mendapat sinar matahari. Tetapi kondisi ini juga mempunyai dampak buruk khususnya bagi mereka yang kesehariannya terus terpapar sinar matahari, misalnya petani dan nelayan. "Mereka itu sering terpapar sinar ultraviolet. Untuk mengurangi risiko katarak, sangat dianjurkan untuk memakai topi lebar dan kacamata hitam," jelasnya.

Pemeriksaan mata secara teratur sangat perlu untuk mengetahui adanya katarak. Bila telah berusia 60 tahun sebaiknya mata diperiksa setiap tahun. Selain menghindari paparan sinar matahari, kecepatan berkembangnya katarak bisa ditekan dengan beberapa cara seperti menghindari kebiasaan merokok, menjalankan pola makan yang sehat dengan memperbanyak konsumsi buah dan sayur dan
menjaga tubuh dari risiko penyakit degenartif seperti diabetes yang dapat memicu katarak.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau