Budaya Orang Filipina Mirip dengan Manado

Kompas.com - 11/01/2012, 12:39 WIB

MANADO,  KOMPAS.com - Budaya orang Filipina sangat mirip dengan budaya dari masyarakat Sulawesi Utara. Apalagi, secara jarak lokasi keduanya memang sangat berdekatan dan dapat ditempuh dengan perjalanan udara hanya dalam satu jam. Namun sayang, tidak ada penerbangan langsung antara Filipina (Davao) - Manado. "Saat ini tidak ada direct flight. Tapi rencananya akan ada, minimal ada rute Davao-Manado, lalu bisa lanjut ke Bali. Bisa juga Manila lalu Davao, kemudian Manado," tutur Konjen Filipina Jose Dela Rosa Burgos, yang ditemui saat jamuan makan malam para delegasi ASEAN Tourism Forum (ATF), di Manado, Selasa (10/1/2012).

Ia menjelaskan Filipina sama seperti Indonesia yaitu berupa negara kepulauan. Sehingga, salah satu daya tarik wisatanya adalah diving. Jose mengatakan bahwa ada beberapa turis penggemar diving yang melakukan diving lintas regional. "Mereka diving mulai dari Visayas, lalu diving ke Davao, lanjut diving di Manado," ungkapnya.  

Sebenarnya, tambah Jose, di tahun 2008 sudah ada pembicaraan mengenai penerbangan langsung dari Filipina (Davao atau Manila) ke Manado. Ia berharap di tahun 2012, sudah mulai ada maskapai yang mengoperasikan rute penerbangan langsung tersebut. "Maskapai dari Filipina mungkin Zest Air dan Airphil. Kalau dari Indonesia mungkin Lion Air," katanya.

Jose berharap dengan Manado sebagai tuan rumah ATF 2012 dapat membuat Manado menjadi pusat perhatian dunia internasional. Pada akhirnya, lanjut Jose, hal ini dapat meningkatkan pariwisata di Manado. "Bagi kami, Manado memiliki beragam kesamaan dengan budaya Filipina, mulai dari budayanya, tarian, makanannya. Walaupun makanannya terlalu pedas bagi lidah kami, tapi saya pribadi menyukainya," katanya.

Sementara itu, Kepala Dinas Pariwisata dan Ekonomi Kreatif Provinsi Sulawesi Utara, Haefrey Sendoh menuturkan dulu pernah ada penerbangan langsung antara Filipina dan Manado. "Itu saat era Bouraq. Tapi banyakan kita yang ke sana dibanding dari sana ke seni. Lalu ada carteran Merpati dan Wings," ungkapnya.

Haefrey menuturkan orang Filipina yang bertandang ke Manado lebih banyak dalam rangka urusan bisnis dibanding sekadar pelesir. Sedangkan Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang mengharapkan adanya penerbangan langsung tersebut. "Kita harapkan dari Jepang ke Manado, lewat Filipina. Saya harapkan Lion akan membuka jalur. Lalu lanjutkan ke Bali yang hanya 1,5 jam dari sini," tuturnya.

Haefrey  menjelaskan di bulan Januari 2012, Manado akan kedatangan dua pesawat Airbus 320 carteran, yaitu pada tanggal 23 Januari 2012 dan 26 Januari 2012. Pesawat carteran tersebut akan membawa turis dari Guangzhou, China. Hal ini berarti merupakan pesawat carteran pertama dengan rute China daratan ke dan dari Manado. "Ini kita ada pesawat carteran Batavia dari Guangzhou ke Manado. Jadi berangkat tanggal 23 kembali ke Guangzhou tanggal 25, tanggal 26 balik lagi ke Manado. Saat ini sudah terjual 170 kursi. Kalau bagus penjualannya, bisa kita jadikan reguler di bulan April 2012," ujarnya.

ATF merupakan usaha regional untuk mempromosikan kawasan ASEAN  sebagai satu destinasi wisata. Ajang tahunan ini melibatkan semua sektor industry pariwisata dari 10 negara anggota ASEAN yaitu Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Laos, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, dan Vietnam.  Tahun 2012, ATF diselenggarakan di Indonesia yang mendatangkan 1.600 delegasi dari berbagai negara. Acara berlangsung pada 8-15 Januari 2012. Pada ATF, diselenggarakan pula ATF TRAVEX berupa pameran dan bursa pariwisata yang menampilkan berbagai industri pariwisata di kawasan ASEAN.  

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau