Pemilukada dki

Anak Kemayoran Janji Ubah Birokrasi Pemprov DKI

Kompas.com - 11/01/2012, 14:59 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com — Prayitno Ramelan atau akrab dipanggil Pak Pray akan ikut meramaikan bursa Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pilkada) DKI Jakarta 2012 mendatang. Pria yang aktif menulis di blog Kompasiana ini memiliki visi untuk memperbaiki birokrasi Pemerintah Provinsi DKI, jika nanti ia terpilih sebagai Gubernur DKI periode 2012-2017.

"Ada dua masalah yang menjadi prioritas saya untuk membenahi Jakarta sekarang ini," kata Prayitno, ketika dihubungi oleh Kompas.com, Rabu (11/1/2012).

Pertama, masalah nonteknis adalah perbaikan birokrasi Pemprov DKI agar peran pemerintah sebagai pengayom yang melayani masyarakat dapat terwujud. Tidak hanya itu, jajaran birokrat ini juga dituntut untuk lebih disiplin sehingga masyarakat tidak lagi mengalami kesulitan dan harus menunggu waktu lama untuk mendapatkan pelayanan.

"Banyak yang mengeluh kalau ngurus apa-apa susah dan lama. Itu memang terbukti. Saya berharap itu dapat diubah jika nanti saya terpilih," tutur Prayitno.

Kedua, masalah teknis pembangunan Jakarta. Untuk itu, dia bersedia menerima dan mendengarkan suara masyarakat di Jakarta. Karena menurut dia, sebagai seorang pemimpin sudah semestinya mendengarkan keluhan dari masyarakat sebagai langkah untuk perbaikan Ibu Kota negara ini.

Masalah utama yang kerap dikeluhkan oleh masyarakat Jakarta adalah macet dan banjir. Untuk itu, dia menilai bahwa peningkatan kapasitas jalan dengan pembangunan fly over bukan merupakan jalan keluar yang efektif untuk mengurai kemacetan di Jakarta. Justru dengan pembangunan fly over baru ini dikhawatirkan akan menambah titik kemacetan baru di Jakarta.

"Harusnya dilakukan evaluasi dan revitalisasi moda transportasi umum sehingga penggunaan kendaraan pribadi dapat berkurang. Coba lihat kalau anak sekolah libur, lalu lintas menjadi lebih lancar. Karena biasanya, anak-anak sekolah ini lebih sering naik kendaraan pribadi daripada kendaraan umum," jelasnya.

Untuk masalah banjir, Prayitno mengungkapkan bahwa sejak zaman Belanda, Jakarta memang sudah banjir sehingga keberadaan Banjir Kanal Timur (BKT) dan Banjir Kanal Barat (BKB) hanya berfungsi untuk mengurangi banjir saja, bukan menghilangkan banjir secara keseluruhan. Kendati demikian, dia merespons positif keberadaan BKT dan BKB tersebut. Bahkan dia menyayangkan pembangungan BKT dan BKB yang dikabarkan terhambat berbagai masalah, salah satunya adalan masalah pendanaan untuk pembangunan kanal-kanal ini.

"Insya Allah jika saya terpilih, prioritas saya selama dua tahun ke depan adalah menyelesaikan pembangunan BKT dan BKB sehingga banjir di Jakarta dapat berkurang," kata Prayitno.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau