JAKARTA, KOMPAS.com - Menjelang digelarnya pemilihan kepala daerah di Nanggroe Aceh Darussalam Februari mendatang, pengamanan di Bumi Serambi Mekkah ini pun mulai diperketat. Para calon kepada daerah yang akan mengikuti pesta politik tersebut mendapatkan pengawalan dari aparat kepolisian.
Hal ini dilakukan menyusul adanya berbagai peristiwa penembakan di sana, ditambah kasus terakhir, penyerangan terhadap rumah calon bupati (cabup) Aceh Utara Misbahul Munirin, di Desa Keude Krueng, Aceh Utara, Selasa kemarin. "Setiap calon bupati dan gubernur yang menjadi peserta pilkada senantiasa mendapatkan pengawalan apalagi menjelang diselenggarakannya pemilukada nanti," ujar Kepala Bagian Penerangan Umum Polri Komisaris Besar Boy Rafli Amar di Jakarta, Rabu (11/1/2012).
Boy mengungkapkan, pengawalan juga diberikan terhadap Komisi Pemilihan Umum Daerah setempat, karena institusi tersebut juga sering menjadi sasaran dari massa yang anarkis ketika proses pilkada berlangsung.
Sementara iru, sebagai langkah antisipasi, kepolisian juga telah memetakan beberapa daerah yang rawan di Aceh seperti Bireun, Lhoksumawe dan Aceh Besar. Sedangkan, untuk pengamanan di tempat pemungutan suara juga dilaksanakan operasi kepolisian Mandiri kewilayahan di Polda Aceh selama 40 hari.
Pengamanan akan dilakukan di 9.754 tempat pemungutan suara di yang meliputi 13 kabupaten, 4 kota dan provinsi dengan bantuan kekuatan TNI sebanyak 1.749 personil yang stand by on call. Selain pengamanan ini, kata Boy, diharapkan masyarakat juga tetap waspada terhadap berbagai kemungkinan dinamika situasi di Aceh.
KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang