Antisipasi Penularan Flu Burung, Kemenkes Pantau Lokasi PD

Kompas.com - 12/01/2012, 08:38 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Kementerian Kesehatan memantau kondisi kesehatan warga sekitar tempat tinggal PD, pasien flu burung asal Jakarta Utara yang meninggal dunia beberapa hari lalu. Hal ini untuk mengantisipasi penularan virus flu burung H5N1.

Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama menyampaikan hal itu, Kamis (12/1/2012), di Jakarta.

Sebagai bagian dari prosedur standar penanganan flu burung, kalau ada pasien positif flu burung, maka orang yang ada di sekitarnya dan kontak dengan pasien itu akan diawasi.

Pemantauan itu meliputi antara lain, penjelasan tentang gejala dan penularan flu burung. Bila diperlukan, pemeriksaan suhu setiap hari. Pada sebagian kasus, petugas mengambil sampel untuk diperiksa di laboratorium. Pengawasan ketat ini dilakukan 1 atau 2 kali masa inkubasi.

Petugas juga dapat memberikan obat pencegahan atau profilaksis, berupa Oseltamivir 1 X 1 tablet. "Tindakan pencegahan penularan lain, kalau diperlukan sekali, dapat sampai karantina," ujarnya. Sehubungan dengan mendiang PD yang meninggal di Jakarta Utara beberapa hari yang lalu, maka prosedur serupa juga berjalan.

"Ada belasan kontak di lingkungan tempat tinggal yang diawasi dengan cermat, dan mendapat obat pencegahan / profilaksis dan ada pula yang diperiksa sampelnya," kata dia.

Dua warga sekitar yang demam dibawa ke RS Persahabatan. Seorang anak 5 tahun, yang hasil PCRnya terbukti negatif beberapa kali dan sudah tidak dirawat lagi di ruang isolasi. Sementara pemuda usia 19 tahun masih ditunggu kepastian hasil PCR nya (hasil awal kemarin malam adalah negatif).

"Kedua kasus itu bukanlah pasien flu burung, keluhan dan gejalanya juga hanya ringan, mereka dimasukkan ke RS semata-mata sebagai bentuk kewaspadaan dan ke-hati-hatian karena pernah kontak dengan pasien yang positif flu burung," kata Tjandra.

Hasil pemeriksaan sampel kontak yang lain juga sampai hari ini semuanya negatif. Meski demikian, semua prosedur baku penanganan flu burung pada manusia terus dijalankan sesuai standar yang ada, termasuk pencegahan penularan lanjutan seperti kasus di Jakarta Utara itu," ujarnya.

Sementara itu pihak Dinas Peternakan atau Kesehatan Hewan setempat juga melakukan langkah-langkah antisipatif di bidangnya. "Sesuai prosedur dalam International Health Regulation (IHR), saya juga sdh melaporkan kasus yg PCR positif flu burung ke WHO," ujarnya.

Data WHO menyebutkan, dalam tahun 2012, ada 3 laporan kasus di dunia, tanggal 5 Januari dari China dan Mesir, serta tanggal 10 Januari dari Indonesia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau