Tasikmalaya, Kompas -
”Produksi ikan Indonesia berlimpah, Indonesia seharusnya ekspor bukan impor,” kata Ketua Himpunan Nelayan Seluruh Indonesia (HNSI) Tasikmalaya Dedi Mulyadi di Tasikmalaya, Rabu (11/1).
HNSI Tasikmalaya mencatat, kerapu, kakap, layur, tenggiri, dan lobster adalah komoditas ekspor ikan Tasikmalaya ke Jepang dan Korea. Sebab, ketika musim panen setiap bulan, tangkapan layur mencapai 50 ton per bulan, kerapu 75 kuintal, kakap 50 kuintal, tenggiri 50 kuintal, dan lobster sekitar 37,5 kuintal.
Perkiraan layur, kerapu, kakap, dan tenggiri sekitar 50 persen dari total tangkapan per bulan. Sedangkan estimasi ekspor lobster mencapai 80 persen dari total tangkapan per bulan.
Menurut Dedi, ekspor ikan sangat menguntungkan nelayan karena harga jualnya lebih mahal ketimbang pasar domestik. Harga jual di pasara internasional
Jadi, kata Dedi, pemerintah perlu mengkaji ulang kebijakan membuka impor ikan. Dalam kondisi produksi ikan berlimpah, pemerintah justru mengutamakan peningkatan hasil tangkapan.
Caranya, antara lain, menyediakan perahu dan alat tangkap, hingga pembangunan dermaga layak pakai, terutama untuk nelayan di daerah dengan potensi ikan.
Tokoh nelayan Tasikmalaya, Eet Riswana, mengatakan, potensi ikan dan lobster di pantai Tasikmalaya mencapai 876,40 ton per tahun, tetapi baru dimanfaatkan 13,5 persen dari total potensi. Kendalanya, karena minimnya jumlah nelayan berperahu.
Saat ini, dari 3.581 nelayan di wilayah itu, 1.500 nelayan di antaranya memiliki perahu. Tasikmalaya, dengan panjang panjang 52,5 kilometer, hanya memiliki dua dermaga, jadi perlu ditambah.
Kepala Bidang Kelautan Dinas Peternakan, Perikanan, dan Kelautan Kabupaten Tasikmalaya Rita Setyawati mengakui hasil tangkapan belum maksimal. Kontribusi pendapatan asli daerah dari sektor perikanan tahun relatif kecil, tahun 2011 sebesar Rp 100,82 juta.