Penetrasi Seluler di Indonesia Lampaui China

Kompas.com - 13/01/2012, 15:45 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com - Ada berapa banyak sebenarnya jumlah pelanggan telekomunikasi seluler di Indonesia? Ternyata, sudah melampaui jumlah penduduk.

Asosiasi Telekomunikasi Seluler Indonesia (ATSI) mencatat, hingga akhir 2011, jumlah pelanggan selular mencapai 250 juta pelanggan.

Padahal, penduduk Indonesia diperkirakan "baru" mencapai 240 juta pelanggan. Artinya, jika dihitung persentase, Indonesia memiliki penetrasi seluler 110 persen.

Berdasarkan riset dari Wireless Intelligence, jumlah tersebut lebih tinggi dibandingkan di China yang hanya mencapai 70 persen.

Tentunya, meski persentase lebih kecil dari Indonesia, jumlah pelanggan di China akan lebih besar. Dengan asumsi penduduk China 1 miliar, 70 persennya saja mencapai 700 juta pelanggan.

Penetrasi pelanggan selular China masih lebih rendah bila dibandingkan dengan India (80 persen) dan Jepang (99 persen).

Penetrasi terbesar dicatatkan oleh Malaysia dengan tingkat133 persen. Lalu disusul Belanda (117 persen), Thailand (116 persen) dan Filipina (113 persen).

Lebih Dari Satu

Angka pelanggan yang besar di Indonesia, menurut ATSI, disebabkan pelanggan selular di tanah air bisa memakai lebih dari satu kartu selular, baiok GSM atau CDMA.

Menurut perkiraan ATSI, jumlah itu masih didominasi oleh pelanggan GSM yang mencapai lebih dari 95 persen.

Dari jumlah total pelanggan, sekitar 60 persen dikontribusikan dari masyarakat berusia produktif. Bahkan sekitar 51 persen didominasi oleh masyarakat berusia maksimal 24 tahun.

Ketua Asosiasi Telekomunikasi Selular Indonesia (ATSI) Sarwoto Atmosutarno menganggap, dominasi itu menunjukkan peluang industri baru telekomunikasi, yaitu lebih mengarah ke industri broadband.

Jumlah pelanggan data dan broadband hingga akhir tahun lalu sebesar 70 juta atau sekitar 28 persen dari total pelanggan selular tanah air. Jumlah tersebut naik hampir 100 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Operator Harus Menyambut

Hal ini, ujar Sarwoto, harus disambut oleh operator telekomunikasi di Indonesia. Operator dituntut untuk segera meningkatkan infrastrukturnya, terutama peningkatan jaringan broadband.

Hingga akhir 2011, pertumbuhan infrastruktur, dilihat dari total Base Transceiver Station (BTS), mencapai 97.000 BTS. Sekitar 22.000 BTS kini sudah memakai BTS 3G (BTS Node B).

"Diprediksi pembangunan BTS dengan kualitas jaringan 3G dan Long Term Evolution (LTE) akan meningkat di masa mendatang," jelasnya.

Di 2011, jumlah BTS berkualitas 2G masih 79,02 persen dan BTS 3G capai 20,98 persen. Di 2012, diperkirakan akan menjadi 71,43 persen (BTS 2G) dan 28,57 persen (BTS 3G).

Di 2013, BTS 2G akan menjadi 62,11 persen, BTS 3G menjadi 37,29 persen dan LTE mencapai 0,64 persen. Prediksi di tahun 2016, BTS 2G hanya akan mencapai 33,69 persen, BTS 3G capai 61,37 persen dan LTE 4,94 persen.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau