Bbm besubsidi

IER: Jangan Bikin Rakyat Bingung

Kompas.com - 15/01/2012, 13:21 WIB

JAKARTA, KOMPAS.com- Indonesia Energy Review (IER) meminta pemerintah segera memastikan mekanisme kebijakan pembatasan bahan bakar minyak bersubsidi yang direncanakan mulai 1 April 2012.      "Jangan membuat masyarakat menjadi bingung," kata Direktur Eksekutif IER Aris Eko Sedijono dalam rilisnya di Jakarta, Minggu.


Menurut dia, pemerintah melalui Presiden Susilo Bambang Yudhoyono atau Menko Perekonomian Hatta Rajasa mesti segera mengumumkan kepastian dan bentuk mekanisme pembatasan BBM bersubsidi.      Banyaknya pendapat pejabat publik seperti Menko Perekonomian, Menkeu, Menteri ESDM, dan Wamen ESDM yang memberikan pernyataan berbeda-beda dan seperti masih ada opsi selain pembatasan, lanjutnya, juga menambah kebingungan  masyarakat.

"Segeralah mengumumkan ke publik. Implikasi pembatasan BBM bersubsidi sangat luas. Harus diperhatikan kebijakan pembatasan BBM ini baru pertama dilakukan. Ada potensi keresahan sosial yang tinggi. Ini perlu diantisipasi dalam sisa waktu sampai April nanti," ujarnya.

Apalagi, IER juga menilai hingga menjelang dua bulan pelaksanaan pembatasan BBM, persiapan pembatasan BBM bersubsidi masih belum matang. "Bagaimana pengawasan di SPBU nanti, jika masyarakat membeli BBM. Siapa yang bertugas mengatur bahwa konsumen yang sudah di SPBU boleh atau tidak membeli Premium. Hal-hal semacam ini bisa memicu keresahan sosial," ujarnya.

Ia juga mengingatkan, pasar di Indonesia tergolong pasar terbuka yang mengharamkan diskriminasi terhadap konsumen. Tak terkecuali, lanjutnya, SPBU merupakan bagian dari sistem pasar terbuka yang diatur UU No 22 Tahun 2001 tentang Migas. "Tidak gampang mengubah kebiasaan masyarakat yang sudah bertahun-tahun bebas membeli BBM di SPBU. Oleh sebab itu jika memberlakukan pola pembatasan BBM harus disiapkan dengan matang dari seluruh aspek," katanya lagi.

Ketersediaan infrastruktur bahan bakar gas yang memadai dan kekhawatiran aspek keamanan penggunaannya, juga menjadi sorotan IER. Sejauh ini, menurut Aris, produsen otomotif di Indonesia juga hanya memproduksi jenis mobil dengan BBM.

Penambahan "converter kit" agar bisa memanfaatkan BBG belum ada tanggapan dari pihak pabrikan otomotif. "Setiap desain produk sudah mempertimbangkan semua aspek teknis sejak awal. Pertanyaannya apakah penambahan ’converter kit’ itu tidak mengganggu ’performance’ mobil yang didesain menggunakan BBM," ujarnya.

Karenanya, IER tetap mengusulkan sebaiknya pemerintah menaikan harga premium ketimbang membatasi konsumsi. "Secara konsep pembatasan mungkin layak. Tapi belum tentu bisa dengan mudah diterapkan. Menaikan harga premium Rp1.000 hingga Rp1.500 per liter akan lebih realistis," katanya.

IER berpandangan keengganan pemerintah menaikan BBM lebih didasari alasan politis dibanding ekonomis. "Pemerintah berusaha menghindari kebijakan menaikan harga komoditas yang masuk dalam kategori ’administrased price’," ujarnya.

IER juga mengakui saat ini Indonesia memang disandera dilema harga BBM. "Siapapun yang akan memerintah akan menghadapi dilema ini. Jadi tergantung keberanian memilih kebijakan. Bagi rezim yang tulus dan terbukti mampu menjalankan amanah mensejahterakan rakyat, tak ada ketakutan menaikan harga BBM karena rakyat tetap mendukung," ujar Aris.

 

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Baca tentang
    Bagikan artikel ini melalui
    Oke
    Apresiasi Spesial
    Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
    Rp
    Minimal apresiasi Rp5.000
    Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
    Apresiasi Spesial
    Syarat dan ketentuan
    1. Definisi
      • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
      • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
    2. Penggunaan kontribusi
      • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
      • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
    3. Pesan & Komentar
      • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
      • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
      • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
    4. Hak & Batasan
      • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
      • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
      • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
    5. Privasi & Data
      • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
      • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
    6. Pernyataan
      • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
    7. Batasan tanggung jawab
      • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
      • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
    Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
    Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
    Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
    Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
    Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
    atau