Imlek

Perajin Ukir Jepara Kebanjiran Pesanan Patung

Kompas.com - 17/01/2012, 04:45 WIB

JEPARA, KOMPAS - Memasuki tahun baru Imlek, perajin ukir di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah, menerima banyak pesanan ukir-ukiran bernuansa China. Pesanan itu datang dari pasar lokal dalam negeri dan internasional, seperti Malaysia dan China.

Aneka ukiran khas Negeri Tirai Bambu itu antara lain beberbentuk naga, kilin, dewa-dewi, Buddha, dan meja sembahyang. Harganya mulai dari Rp 5 juta hingga Rp 140 juta. Sebagian besar pemesan meminta dibuatkan meja sembahyang China berukir naga dan patung naga mengingat tahun 2012 adalah tahun naga air.

Pemilik UD Rahayu Jati, Rochani Hadi, Senin (16/1), mengatakan bahwa pada hari-hari biasa pesanan mebel ukir dan relief paling hanya 1-3 buah dalam sebulan. Namun, memasuki bulan pertama menjelang Imlek ini pesanan meningkat menjadi 10 buah.

Pemesan kebanyakan meminta dibuatkan meja sembahyang khas China yang memadukan ukiran naga, kilin, dan motif bunga. Dari 10 pemesan, dua di antaranya berasal dari Malaysia.

”Meja sembahyang ukuran kecil dengan panjang 2 meter harganya Rp 7,5 juta, sedangkan ukuran besar dengan panjang 4 meter harganya Rp 9,5 juta,” kata Hadi.

Pemilik UD 69, Suniman (46), mengaku menerima pesanan dari pembeli China. Pemesan meminta dibuatkan patung ukir sembilan naga tiga dimensi setinggi 4,5 meter dan berdiameter 1,5 meter. Patung itu terbuat dari kayu pohon trembesi utuh yang dikerjakan lima pengukir.

Patung ukir senilai Rp 140 juta itu dibuat dalam tempo delapan bulan. ”Selain patung sembilan naga itu, kami juga membuat patung dewa-dewi dan kilin pesanan sejumlah wihara dari luar kota Jepara,” kata Suniman.

Harga kayu

Meskipun kebanjiran pesanan di awal tahun, para perajin mengeluh kesulitan mendapatkan bahan baku, terutama kayu jati, karena harganya cukup tinggi. Selain itu, mereka kesulitan memperoleh kayu jati gelondong berdiameter di atas 70 sentimeter.

Menurut Rochani Hadi, harga kayu jati berdiameter 30-40 sentimeter dengan panjang 2 meter harganya mencapai Rp 7 juta- Rp 8,5 juta. Padahal sebelumnya Rp 6 juta-Rp 7,5 juta. Adapun kayu jati berdiameter 70 cm dengan panjang 2 meter harganya Rp 19 juta. Sebelumnya, kayu jati seukuran itu harganya Rp 17 juta.

”Untuk mengatasi itu, banyak perajin patung dan mebel ukir beralih ke kayu lain, seperti trembesi dan mahoni. Harganya hanya seperempat atau setengah lebih murah ketimbang kayu jati,” kata Hadi.

Hadi dan sejumlah perajin lain berharap pemerintah dapat mengendalikan harga kayu agar tidak terlalu tinggi. Pasalnya, pasca-krisis global, pesanan dari luar negeri kembali menggeliat.

Jika perajin kesulitan mendapatkan bahan baku, perajin akan kesulitan memenuhi pesanan. (HEN)

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Halaman:
Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau