Produksi Minyak Indonesia Kalah dengan Malaysia

Kompas.com - 17/01/2012, 13:18 WIB

 

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua bidang Migas Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Ari H Soemarno, menilai kurangnya investasi di industri minyak mentah menyebabkan produksi dan cadangan minyak mentah terus turun. Kurangnya investasi karena, salah satunya, komoditas minyak dan gas bukan saja diperlakukan sebagai komoditas ekonomi, tetapi juga komoditas politik.

"Jadi peraturan dan ketentuan yang berlaku untuk pemilihan mitra bisnis migas yang ada sekarang terus terang itu membuat kegamangan di kalangan di pelaku bisnis bukan Pertamina saja," ujar Ari, dalam diskusi terkait persaingan usaha di sektor minyak dan gas, di Jakarta, Selasa (17/1/2012 ).

Selain itu, Ari menyebutkan, keberadaan regulasi yang begitu ketat seiring dengan migas bukan hanya komoditas ekonomi, tetapi juga komoditas politik memberatkan pelaku usaha. Karena, kata dia, sektor migas masih merupakan komoditas yang sangat diandalkan negara. "Implikasinya produksi kita menurun terus karena kurangnya investasi. Cadangan kita juga turun terus," tambah Ari yang juga mantan Direktur Utama Pertamina.

Ari menyebutkan, cadangan minyak Indonesia kini hanya 3,8 miliar barrel, sementara cadangan Malaysia bisa mencapai 5,3 miliar barrel. Padahal, kata dia, pada 20-30 tahun lalu, cadangan minyak Indonesia bisa mencapai 10 miliar barrel, sedangkan Malaysia hanya 1-2 miliar barrel.

Sementara produksi minyak nasional terus turun. Ini telah terjadi sejak akhir tahun 1990-an. Sekarang produksi minyak mentah hanya mencapai 900.000 barrel per hari. "Perkiraannya adalah pada tahun 2015 nanti produksi dari Indonesia akan jauh dibawah produksi negara Malaysia. Karena kurangnya investasi, karena keragu-raguan, karena aturan main yang ada di sini," ucap dia.

Bukan hanya produksi dan cadangan saja yang turun. Investasi di kilang bahkan tidak ada lagi. Ditegaskannya, Pertamina terakhir membangun kilang tahun 1995. "Jadi sudah 17 tahun enggak ada penambahan kilang," sebut Ari.

Dengan peningkatan konsumsi, tetapi produksi minyak mentah turun, maka bahan bakar pun sekarang ini harus diimpor. "Total impor BBM (bahan bakar minyak) kita untuk premium dan pertamax plus sudah mendekati 60 persen (dari total kebutuhan)," tutur dia.

Jalan keluarnya, kata Ari, pemerintah perlu membedakan perlakuan industri migas dari industri lainnya. "Jadi mungkin perlu diferensiasi industri migas dari industri lainnya, mungkin kalau istilah hukumnya lex spesialis. Tidak disamakan dengan industri yang lain," sebutnya.

Pasalnya, industri migas bukan industri yang kompetitif tidak bisa disamakan dengan, misalnya, industri telekomunikasi. Sifat industri migas adalah oligopolistik, artinya pelaku usaha memang itu-itu saja karena risiko usahanya yang demikian besar. "Investasi migas adalah padat modal, padat teknologi, dan pelaku lama," tegas Ari.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang

Bagikan artikel ini melalui
Oke
Apresiasi Spesial
Beli dan kirimkan Apresiasi Spesial untuk mendukung Jurnalisme Jernih KOMPAS.com
Rp
Minimal apresiasi Rp5.000
Dengan mengirimkan pesan apresiasi kamu menyetujui ketentuan pengguna KOMPAS.com. Pelajari lebih lanjut.
Apresiasi Spesial
Syarat dan ketentuan
  1. Definisi
    • Apresiasi Spesial adalah fitur dukungan dari pembaca kepada KOMPAS.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
    • Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
  2. Penggunaan kontribusi
    • Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
    • KOMPAS.com tidak berkewajiban memberikan laporan penggunaan dana secara individual kepada setiap kontributor.
  3. Pesan & Komentar
    • Pembaca dapat menyertakan pesan singkat bersama kontribusi.
    • Pesan dalam kolom komentar akan melewati kurasi tim KOMPAS.com
    • Pesan yang bersifat ofensif, diskriminatif, mengandung ujaran kebencian, atau melanggar hukum dapat dihapus oleh KOMPAS.com tanpa pemberitahuan.
  4. Hak & Batasan
    • Apresiasi Spesial tidak dapat dianggap sebagai langganan, iklan, investasi, atau kontrak kerja sama komersial.
    • Kontribusi yang sudah dilakukan tidak dapat dikembalikan (non-refundable).
    • KOMPAS.com berhak menutup atau menonaktifkan fitur ini sewaktu-waktu tanpa pemberitahuan sebelumnya.
  5. Privasi & Data
    • Data pribadi kontributor akan diperlakukan sesuai dengan kebijakan privasi KOMPAS.com.
    • Informasi pembayaran diproses oleh penyedia layanan pihak ketiga sesuai dengan standar keamanan yang berlaku.
  6. Pernyataan
    • Dengan menggunakan Apresiasi Spesial, pembaca dianggap telah membaca, memahami, dan menyetujui syarat & ketentuan ini.
  7. Batasan tanggung jawab
    • KOMPAS.com tidak bertanggung jawab atas kerugian langsung maupun tidak langsung yang timbul akibat penggunaan fitur ini.
    • Kontribusi tidak menciptakan hubungan kerja, kemitraan maupun kewajiban kontraktual lain antara Kontributor dan KOMPAS.com
Gagal mengirimkan Apresiasi Spesial
Transaksimu belum berhasil. Coba kembali beberapa saat lagi.
Kamu telah berhasil mengirimkan Apresiasi Spesial
Terima kasih telah menjadi bagian dari Jurnalisme KOMPAS.com
Login untuk memaksimalkan pengalaman mengakses Kompas.com
atau